Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Februari 2013

Go to Thailand



Bismillahirrahmaanirrahim ….

Ya ampun, parah banget deh saya. Jarang banget upload tulisan di blog sampai udah ganti tahun pula. *tepok jidat
Banyak kejutan ketika buka dasbor, tentang cerita2 upload-an teman2 blogger dan sahabat saya yang shalihah, liawati. Baru lihat tulisan tentang MerahPutih MyBest yang mengharukan sekalee. *lebayy
Oke deh, langsung ajah mau curhat banyak neh blogger. Dimulai yang mana dulu yak? Saking banyaknya atau saking buntunya mau nulis nih? *ngeles.com

Ya udah mulai cerita dari kampus saya tercinta saja yaa. Jadi begini, pas tahun lalu kemarin di bulan Desember, suatu sore Bapak Fauzi Syamsuar (dosen), memasuki kelas saya dan mengumumkan sesuatu. Beliau bilang bahwa salah satu universitas di Thailand mengundang mahasiswa-mahasiswa dari Malaysia, Thailand dan Indonesia, masing-masing 10 orang. Untuk mengadakan pertemuan di universitas tersebut, dalam rangka berdiskusi tentang perkembangan kebudayaan di ASEAN. Naah… dalam rangka menjaring 10 mahasiswa tersebut, maka beliau menjelaskan ketentuan bagi siapa yang berminat untuk ikut ke Thailand. Syarat-syaratnya adalah 1) IPK minimal 3,0 , 2) Mengirimkan tulisan dalam bentuk essai yang bertemakan “The Importance of Cultural Awarness in Developing Indonesia”, minimal 500 kata dan maksimal 600 kata, 3) Dikumpulkan paling lambat tanggal 4 Januari 2013.
Beliau bilang lagi, bahwa pemberangkatan di awal bulan April dan akan memakan waktu 5 hari 4 malam disana. Waah, kedengarannya menarik banget yah?

Akhirnya beliau menuntaskan pengumumannya dengan berharap banyak bahwa di kelas saya ada salah satunya yang bisa berangkat ke Thailand. Insya Allah.
Awalnya saya benar-benar sangat semangat untuk ikut kesempatan ini. Alhamdulillah syarat atau ketentuannya bisa saya ikhtiarkan. Lagipula ini juga salah satu jalan impian saya juga bisa keluar negeri dengan prestasi. Sampai udah berunding dengan seorang sahabat bagaimana caranya bikin essai yang semaksimal mungkin. Tetapi lama-lama saya terbentur dengan ketakutan-ketakutan saya tersendiri. “Gimana izin dari sekolahnya ya kalo saya nanti pergi ke Thailand? Apakah sekolah mengizinkan saya??? Anak-anak bagaimana nanti?”

Astaghfirullah, saya tersadar. Sejak kapan ikut kesempatan ini dengan niat untuk benar perginya saja, bukan untuk ilmu? AKhirnya saya pasrahkan semua. Terpilih atau tidak, pergi atau tidaknya, saya tetap menuliskan essai itu untuk ilmu. Akhirnya pas banget tanggal 4 Januari, saya mengumpulkan karya tulis itu kepada dosen yang bersangkutan. Beliau bilang, nanti akan di informasikan lagi yaa.
Dan taraaa….. besok paginya, saya dapat pesan singkat dari Bapak Fauzi, bahwa beliau sudah membaca karya saya dan menunggu saya untuk mendiskusikan karya tulis saya secara lisan. Alhamdulillaah ya Allah…
Ketemunya sore, sehabis ashar. Akhirnya demi kelancaran nanti ketika berdiskusi dengan sang dosen, saya sempatkan untuk membahas isi essai dengan cara diskusi. Hmmm, sedikit membantu persiapan saya untuk berdiskusi nanti. Dan tibalah waktunya, saya sudah berada di hadapan dosen saya kini. Ternyata diskusinya tidak seseram yang saya bayangkan. Tidak terlalu mengupas essai saya, dan waktunya yang sangat singkat hanya 5 menit. Seusai itu saya disuruh menghadap ke ibu pembantu dekan 1, yaitu Bu Nanik. Untuk melakukan wawancara yang selanjutnya. Haa? Surprise deh saya musti ada wawancara lanjutan dengan Bu Nanik. Tapi ya bismillah aja yah. *deg2an

Ketemu Bu Nani, wawancaranya lumayan lebih lama dibanding dengan Pak Fauzi. Beliau lebih banyak memberikan masukan bagaimana nanti disana, bahwa ke10 mahasiswa yang terpilih akan menjadi duta dari Indonesia. Kita yang membawa nama baik bangsa serta universitas serta khususnya fakultas pendidikan. Seusai wawancara, Bu Nani menyuruh saya menuliskan nama, nomor mahasiswa serta nomor handphone pada secarik kertas. Ternyata saya orang ke 17, sudah ada deretan 16 nama di atas nama saya yang sudah diwawancara beliau. Saya mengenali beberapa deretan nama di kertas itu. Yang dipilih kan Cuma 10, itu berarti akan ada penyaringan lagi dari keseluruhan mahasiswa yang telah diwawancara. Saya sudah sangat jauuuh bersyukur bahwa saya dapat menuliskan essai, berdiskusi dan diwawancarai. Entah saya terpilih atau tidak, saya berdo’a sama Allah minta sebuah keputusan yang terbaik. Saya serahkan kepada keputusanNya.

Pada akhirnya, 10 nama telah diumumkan beliau di facebook. Apakah nama saya tertera disana? Ternyata tidak. Apakah saya kecewa? Ya, sedikit. Harapan saya untuk pergi memang ada, tetapi tidak menggebu dan memaksakannya. Karena dari awalnya saya memang berdo’a padaNya, meminta jalan terbaikNya. Dan mungkin ini jalan dariNya.
Meski saya tidak terpilih, saya belajar banyak hal. Mungkin saya harus lebih banyak belajar lagi tentang kemampuan menulis saya, bahasa inggris saya, dan sebagainya. Ya, semua ada hikmahnya. Ga ada yang sia2.
Saya syukuri juga, bahwa saya tidak perlu risau untuk meminta izin dengan sekolah serta dilema meninggalkan anak didik selama sepekan. Alhamdulillah… 

Jumat, 22 Juni 2012

UIKA -My Story-


Bismillahirrahmaanirrahim…….

Alhamdulillahirrabil’alamin….

Sampai juga di penghujung tahun kedua saya di kampus saya tercinta. Akhir pembelajaran saya di semester 4 tahun 2011/2012. Kemarin selama sepekan tuh baru saja saya selesai UAS. Bagaimana rasanya ta ujiannya? Mantep…. Kayak makan permen nano-nano. Manis, asam, asin, ramai rasanya. –iklan banget c???- hehe

Ujian hari terakhir, pengawas menyebarkan  kertas berisi keterangan studi di semester depan. Semester ganjil tahun  pembelajaran 2012-2013. Jadi, insya Allah besok bulan September saya sudah berada di semester 5. Insya Allah, kalau Allah sampaikan umur saya di bulan tersebut. Insya Allah.

Lihat kertas itu, jadi mengawangkan pikiran saya di suatu hari di tahun 2008. Yuk mari kita rewind sebentar ke salah satu hari di tahun 2008…..

My flash back in 2008

Hari itu saya tengah berdiri di halte shelter UIKA bus trans pakuan Bogor. Menunggu kedatangan bus yang tak kunjung tiba meski saya sudah berdiam disana selama kurang lebih 10 menit. Armada busnya memang tidak sebanyak bus-bus lain atau angkutan kota yang sedari tadi berseliweran menawarkan saya untuk naik. Tapi saya tolak dengan senyum sambil menggelengkan kepala. Bukan arah tujuan saya sih masalahnya.

Sembari menunggu bus pakuan yang belum tiba, akhirnya saya hempaskan diri untuk duduk. Mengedarkan pandangan saya ke jalan raya di hadapan yang ramai lancar. Lalu saya menoleh ke arah tempat saya duduk. Saya menangkap sebuah gedung tinggi berlantai 3 dengan tulisan besar di salah satu lantainya bertuliskan “Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan”.

Entah kenapa terlintas dalam benak dan kemudian saya berujar pada diri saya sendiri bahwa kelak saya akan berada di dalam Fakultas itu. Menuntut ilmu di Universitas yang namanya menjadi salah satu shelter bus yang tengah saya duduki kini.

Semasa kecil, pelajaran yang paling saya senangi adalah bahasa inggris. Mungkin ini sebuah ambisi diri saya untuk terus memperdalamnya hingga ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Mungkin.

Lamunan saya terbuyarkan karena bus yang saya tunggu telah datang.

Dan akhirnya atas izin serta kehendaknya bulan Juli 2010 pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Universitas itu, mendaftarkan diri menjadi mahasiswi di sana. Alhamdulillah, Allah jawab do’a saya.

Bulan-bulan pertama saya di awal perkuliahan memang agak berat. Karena pagi harinya saya harus kerja mengajar di salah satu sekolah dan sorenya saya sudah harus berada dalam kelas mengikuti perkuliahan. Menjelang pukul 21.00 saya baru sampai di rumah dengan rasa lelah yang luar biasa. Belum lagi jika di tengah jalan sopir angkot menurunkan saya di tengah jalan, karena alasan ingin segera pulang lah, atau tidak mau ditagih uang tambahan, menghindari amukkan tukang ojek, dan sebagainya. Bisa dipastikan sesampainya saya di rumah lebih dari jam 21.00. Tetapi saya benar-benar menikmati semuanya. Karena Allah yang menguatkan saya untuk selalu bertahan. Insya Allah.

Perlahan saya menyadari bahwa, apa yang tengah saya pelajari di perkuliahan semuanya menjuru kepada pendidikan. Parahnya saya benar-benar ga ngeh banget ketika mendaftar.

Balik lagi ya ke tahun 2012….

Akhirnya saya yang sekarang, sering bertanya-tanya dalam hati deh. Berfikir dan merasa bahwa sepertinya saya salah jurusan. Apakah masih ingin lanjut? Berhenti dan mengulang dari awal lagi di jurusan yang lain? Apakah tujuan saya di perkuliahan yang tengah saya jalani kini? Apakah hanya sekedar ambisi saya ingin kuliah?

Pertanyaan it uterus menari-nari dalam benak saya. Tapi saya juga berfikir, bahwa ini adalah tahun kedua saya kuliah. Berarti sudah setengah jalan menuju kelulusan, insya Allah. Kenapa saya bingung gini yah? Garuk-garuk kepala aja deh. Hehehe.

Eh, ga lama saya dipertemukan Allah oleh teman ayah seorang psikolog, lulusan dari UNPAD. Kami sudah lama tidak bertemu, sekitar 4 tahun an deh. Beliau banyak cerita-cerita dan akhirnya menanyakan bagaimana keseharian saya sekarang. Trus…. Kesempetan deh saya curhat aja sama beliau. Perihal kebingungan saya yang seperti salah ambil jurusan. Eh beliau malah bilang gini…

“ Gak apa-apa ta, lanjutin aja kuliahnya. Insya Allah, kamu tidak sama sekali salah dalam mengambil jurusan. Dulu saya juga sama kayak kamu deh. Insya Allah, semuanya Allah yang tunjukkan kamu ta. Bismillah aja….” Ujar beliau dengan sangat antusiasnya

“oh begitu ya bu, iya deh Insya Allah saya lanjut…. Makasih ya bu sarannya” jawabku dengan senyuman

Alhamdulillah….. saya sangat bersyukur sekali waktu itu. Saya merasa bahwa do’a saya di bayar kontan oleh Allah. Pertanyaan saya langsung di jawab oleh Allah. Terima kasih ya Allah, atas jawabanMu yang makin menguatkan hamba.

Sekarang, ya ga ada istilah salah jurusan dan sebagainya. Inilah sebuah jalan yang Allah tunjukkan kepada saya. Semoga Allah senatiasa menguatkan saya dalam menjalani semua proses pembelajaran di jurusan, fakultas, dan universitas yang telah saya pilih.

Semua pilihan yang kita pilih ada konsekuensinya yang harus kita jalani. Sebagai wujud tanggung jawab kita atas pilihan hidup yang ingin kita tempuh. Juga sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah atas seluruh anugerah yang Allah titipkan pada kita. Insya Allah, amiiin.

*Kuatkanku ya Rabb….

Sabtu, 16 Juni 2012

Selingan (gapenting.com)


Bismillahirrahmaanirrahim…..

Mata juga belum bisa ditutup rapat nih kayaknya. Kalo udah utak-atik sama tuts keyboard laptopnya ayah. Mau gimana donk deadline tugas bentar lagi nih. Masih ada 2 essay yang harus diselesaikan, makalah yang belum rapi, 10 artikel ber bahasa inggris yang haru diterjemahkan (masya Allah). Pengen banget udah kabur liburan kemana gitu. Kan sekolah juga udah libur tuh. Tapiiiii….. kampusnya ini loh. Belum mau kompromi. Mau uas nih sodara2. Doakan saya yah. Hehehe.

Tanggal 18-22 Juni full insya Allah UAS semester genap tahun pembelajaran 2011-2012. Dari jam 14.00-17.30. Setiap hari akan diujikan 2 mata kuliah. Mantapss…. (@_@). Toeng… toeng….

Tapi gak papa. Saya mah malah senang da mau UAS mah. Berarti bentar lagi saya bisa liburaaaaaannnn….. hahaha. (parah!). Udah penat lagian berkutat sama tugas-tugas (sok rajin ngerjain aja) hehe. Ya namanya juga mahasiswa yah? Mang tugasnya apa lagi kalo ga belajar, ngerjain tugas dan ujian-ujiannya itu lah. (lagi bener mikirnya)

Becanda ko…. Jangan anggap serius yah tulisan akibat tekanan yang menimpa diri saya. (halaah… apa c ta??) ^^

Pokoknya do’ain yaa, saya mau UAS niy. Jazakumullah buat do’anya. Semoga UAS semester ini bisa lebih baik dari pada semester kemarin. Insya Allah, aamiiiin.

_Curhatgajelas.com_
^^

Sabtu, 14 April 2012

Tentang Hidup (Part III)


                                                            Bismillahirrahmaanirrahim……


Hidup adalah belajar
Belajar besyukur meki tak cukup
Belajar memahami meski tak sehati
Belajar Ikhlas meski tak rela
Belajar sabar meski terbebani
Hati memang sepei gelombang air laut, pasang surut dan sering terbawa arus
Maka dari itu  tetaplah belajar untuk tetap berada di jalanNYA
Belajar menjadi lebih baik
Untuk menjadi yang terbaik
Insya Allah
Amin!




Jumat, 06 April 2012

Do'a Rabithah.....


Bismillahirrahmaanirrahim…….

Sesungguhnya Engkau tahu…. Bahwa hati ini telah berpadu… Berhimpun dalam naungan cintaMu… Bertemu dalam ketaatan… Bersatu dalam perjuangan… Menegakkan syari’at dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya…. Kekalkanlah cintanya… Tunjukilah jalan-jalannya… Terangilah dengan cahyaMu… Yang tiada pernah padam… Ya Rabbi, bimbinglah kami…

Lapangkanlah dada kami… dengan karunia iman… dan indahnya tawakal padaMu… Hidupkan dengan ma’rifatMu… Matikanlah dalam syahid di jalanMu…Engkaulah pelindung dan pembela…
_Izzis, Rabithah

Barisan kata di atas adalah syair dalam salah satu lagu Izzatul Islam. Barisan kata di atas juga merupakan bait-bait sebuah do’a. Yang terangkai indah, penuh makna dan mendalam artinya.

Do’a pengikat hati kita bersama dengan orang-orang yang tercinta, orang-orang yang berjuang atas nama dienNya, orang-orang yang selalu mencari cahayaNya, orang-orang yang selalu meminta bimbingan RabbNya, orang-orang yang hanya selalu mengandalkan Allah sebagai sebaik-baik pelindung dan pembela.

Agar disatukan hati kami dalam himpunan naungan cintaNya yang abadi serta suci

Agar disatukan hati kami dalam ketaatan yang mulia

Agar disatukan hati kami selalu dalam perjuangan hanya menggapai ridhoNya, dalam menegakkan syari’atNya dalam degup kehidupan

Agar dikuatkanNya ikatan hati kami yang telah berpadu dan berhimpun ini

Agar dikekalkanNya selalu cinta kami ini hanya untukNya saja

Agar ditunjukiNya selalu jalan-jalan menuju jalan kebenaranNya

Agar diterangiNya selalu dengan cahayaNya yang selalu berpijar dan yang tak akan pernah padam

Agar dibimbingNya selalu dalam titian cita kami menuju menara cahaya di surgaNya

Agar dilapangkanNya selalu dada kami selalu dengan iman tanda karunia dariNya

Agar dianugerahkanNya selalu kepada kami betapa indahnya bertawakal kepadaNya

Agar dihidupkanNya selalu kami dalam ma’rifatNya

Agar dimatikanNya kami dalam syahid di jalanNya

Agar hanya kepadaNya selalu kami berlindung dan dibela

Barisan do’a ini… semoga selalu terlafadz dalam kesyahduan kita bermunajat kepadaNya

Barisan do’a ini… insya Allah semoga menjadi penghantar kita menuju
menara-menara cahaya yang telah disiapkan Allah di jannahNya

Untuk kita semua… yang selalu mengharapkan pertemuan yang abadi dengan para pecintaNya serta yang saling mencinta karenaNya, dijalanNya dan hanya untukNya

Insya Allah. Amin!

Wallahu’alam hissawab…..


“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana”
(QS Al-Anfal:63)

Senin, 13 Februari 2012

Penyesalanku...

Bismillahirrahmaanirrahim…..

Menangis dalam diam
                Ya Allah…. Serasa tak sanggup diri ini melihat hasil-hasil nilai semester 3 kemarin yang ada di layar computer. Meski belum lengkap semua nilai2nya. Tapi, IP nya itu loh. Astaghfirullah. Udah lah makin terpuruk aja kalo inget itu.

                Semuanya akibat kesalahan yang saya buat sendiri. Ya bener! Terlalu menganggap enteng dan berlaku asal-asalan. Asal masuk kuliah biar dapet nilai absen, asal ngerjain tugas, asal konsentrasi mendengar penjelasan dosen di kelas, asal dan asal yang lainnya.

                Ya Allah… hamba menyesal sejadi-jadinya. Sedih. Merasa sangat terpuruk, tertinggal dengan teman yang lainnya, merasa was-was juga karena bisa tidak mengikuti mata kuliah lanjutan di semester 4 ini. Karena ada salah satu dosen me warning ke saya dan teman2 jika mata kuliah yang sebelumnya belum lulus, maka dia tidak meng-allow kami untuk ikut kelas beliau. Astaghfirullah, semester kemarin aja udah nunggak 2 mata kuliah. Ya ini nambah lagi. Ya Allah, mau nangiss…

                 Duh… maaf ya postingan kali ini isinya mengeluh semuanya. Bukannya mau terus2an berkungkung dengan hal yang negative juga sebenarnya. Tetapi hanya ingin sekedar meluapkan apa yang ada di hati. Yang dirasakan. Yang kini disesalkan adanya.

                Segala sesal yang tertulis di atas, kini menjadi bagian masa yang telah terlewati dalam kehidupan seorang Prita Nurulhuda. Semua telah menjadi masa lalu yang telah mati dan terkubur bersamaan dengan waktu yang terus menggiring kita semua dalam masa-masa yang lain. 

Tiga masa kehidupan yang ada dalam kehidupan kita adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Yang pertama, masa lalu adalah masa yang telah kita lalui, dia telah mati dan kita pun tak bisa kembali memutar masa yang telah kita lewati, kita tidak bisa merombak ulang apa-apa yang dahulu kita lakukan dengan melakukan hal yang sam dengan cara yang lebih baik.

Yang kedua, masa kini. Ini adalah masa-masa yang terbaik, masa yang sebenar-benarnya waktu kesempatan kita menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Meninsyafi segala hal yang terjadi di masa lalu, memperbaiki segala kesalahan yang kita lakukan, berusaha tidak jatuh kembali dalam lubang yang sama. Masa kini adalah kehidupan kita yang sesungguhnya. Mengapa? Karena sejatinya, kita tak perlu lagi merisaukan betapa kelamnya masa lalu yang kita lalui sebelumnya dan yang terpenting melakukan hal terbaik di masa kini untuk hasil terbaik di masa depan.

Ya! Masa yang ketiga dalam kehidupan kita adalah masa depan. Masa depan pun masih menjadi misteri bagi kehidupan kita. Kita masih mereka-reka bagaimana kehidupan kita di masa hadapan? Bayang-bayang ketakutan pun akan pasti ada. Padahal jika kita mau sedikit berfikir lebih mendalam dan menyadari bahwa masa depan masih mengawang jauh di hadapan. Masih belum pasti terlihat adanya. Masih menjadi rahasiaNya. Lalu mengapa kita mesti terbebani dengan segala ketakutan-ketakutan yang mungkin tidak akan pernah terjadi nantinya? Mengapa kita menjadi ragu dengan kegemilangan di masa hadapan karena terhambat dengan bayang kegagalan yang belum atau mungkin tidak akan seburuk yang kita fikirkan?

Rasa takut untuk melangkah karena takut gagal, takut terjatuh lagi, takut kembali terpuruk, takut tidak kuat, takut dan takut yang lainnya. Semua ketakutan itu ada untuk mengajari kita. Mendidik kita agar bisa BERANI!!! Menghadapi segala aral rintang yang ada di hadapan, agar kita terus berharap kepadaNya dalam menyongsong masa depan yang Insya Allah lebih baik, agar langkah kita makin teguh dalam jalan-jalan meraih cita kita yang mulia.

Segala onak duri yang bertebaran dalam jalan panjang kita meretas semua harap kita, adalah penyemangat kita. Pendorong kita, pengingat kita. Allah tidak akan menguji kita diluar kemampuan kita. Allah telah menganugerahkan kepada kita segala potensi, kemampuan untuk berusaha menggapai semua harap yang ingin kita wujudkan. Yang ada mungkin malah kita yang tidak maksimal menggunakan segenap kemampuan serta potensi yang telah diamanahkanNya itu. Ya, termasuk berlaku asal-asalan dalam mengerjakan sesuatu itu tadi. Astaghfirullah.

Tidak ada jalan keluar lain lagi untuk mengatasi penyakit asal-asalan ini dengan mengoptimalkan segala anugerahNya yang DIA berikan, yang DIA amanahkan, yang DIA pinjamkan kepada kita. Mengerahkan segala potensi serta kemampuan yang kita miliki. Melahirkan semangat-semangat daya juang tinggi dalam hari-hari di kehidupan kita.

Ketika semua perubahan-perubahan yang kita lakukan berlandaskan niat mulia, hanya untukNya. Ketika semua tekad kuat kita untuk membuang jauuh penyakit asal-asalan ini telah mengakar dalam diri. Ketika azzam telah teguh dalam pijakan semangat meraih masa depan yang lebih baik. Ketika keyakinan akan harapan-harapan kita bisa terwujud….



Yang terpenting dan paling utama. Kita lafadzkan Laa haula wa laa quwwata illa billaah….. Tiada daya dalam diri ini untuk selalu istiqamah, tetap teguh dan makin kukuh. Tiada kekuatan untuk menjauhi segala maksiat, salah serta khilaf kecuali dari satu-satunya pemilik Kekuatan yang ada di seluruh jagat raya. Dan setelah melafadzkannya, maka kini kita harus memaksakan diri ini untuk tetap meniti, tetap melangkahkan kaki kita dalam jalan-jalan panjang meretas segala asa, mewujudkan segala mimpi. Walau terantuk, walau tersaruk, walau terhuyung. Walau kadang limbung digalut bingung…… Allahu’alam.
Insya Allah ta,,, makin kuat. Amin!



Jumat, 03 Februari 2012

Tentang Hidup (Part II)


Bismillah......




Jalan panjang itu bernama kehidupan

Jalan dalam hidup yang tak akan pernah lurus

Penuh liku, dan kian terus mendaki

Tak jarang kita terperosok dalam lubang kekalahan

Tak jarang kita terjatuh dalam keputus asaan

Tak jarang pula kita tegap berdiri dalam pijakan  kemenangan





Jalan panjang kehidupan ini mengajarkan banyak hal pada kita

Bahwa jalan hidup kita bukan  hanya sekedar dunia

Jalan kita yang utama

Kampung halaman yang abadi

Kampung akhirat

Di sana lah tujuan hidup kita

Persiapkan sebaik-baik bekal untuk menggapai kebahagiaan haqiqi

Di sana…. Di surgaNya

Insya Allah. Amiiiin






* Semangat ya ta.... cepet sembuh!!!!
030212

Jalan Kehidupan







Bismillahirrahmaanirrahim….




Jalan masih panjang

Terbentang di hadapan

Tak hanya sekedar dunia
Lihatlah kedepan yang lalu biar berlalu
Jadikan pemicu kalbu
Reff:

Jalan hidup takkan pernah lurus
Pasti ada salah lewati segalanya
Tapi Tuhan tak pernah berhenti
Membuka jendela maaf untuk kita

Jalan masih panjang
Jangan berputus asa
Selagi nyawa tersimpan


            Baris kata di atas adalah bait-bait lirik lagu Edcoustic yang kini selalu menemaniku untuk banyak merenung, bermuhasabah, menginterospeksi. Memperbaiki apa-apa yang telah ku lewati. Pikiranku melayang ke akhir-akhir tahun lalu. Semester ganji di sekolah dan kampus.

            Astaghfirullah…. Ya Allah, hamba harus puas dengan hasil-hasil nilai di semester ganjil ini, harus puas dengan pencapaian target anak didik di semester lalu, harus puas dengan pencapaian hafalan yang belum selesai-selesai 1 juz, harus puas dengan kondisi tubuh yang sering drop, harus puas dengan minimnya kehadiran di sekolah yang mengakibatkan kurangnya professionalan kerja untuk sekolah. Harus menangis dengan semua keadaan ini!!! Harus berbenah diri untuk memperbaiki segala yang terjadi.

            Saya sadar…. Rentetan semua peristiwa yang ada di semester kemarin. Banyak yang membuat saya down. Tapi apakah itu akan dijadikan alasan untuk menghentikan semua target-target yang ada? Apakah hanya karena 1 permasalah maka saya akan berhenti untuk melanjutkan segala degup sisi kehidupan yang lain? Apakah saya akan terus-terusan pula menyalahkan keadaan dan tidak segera berbenah diri? Apakah mau hanya berdiam diri?

            Prita Nurulhuda….. Hidup itu luas. Permasalahan hidup kita bukan hanya dalam 1 aspek saja. Ketika kita menghadapi 1 permasalahan di rumah misalnya, maka apakah lantas kita berhenti untuk menjalani kehidupan kita selain di rumah. Tentu tidak. Kita masih harus hidup dengan keinteraksian dengan lingkup ruang yang lain pula. Hidup terus berjalan. Hidup akan terus berputar. Perputaran waktu itulah yang akan memberikan jawaban-jawaban atas segala permasalahan yang sedang kita hadapi.

Life is Journey
            Apakah cukup dengan menunggu waktu yang akan terus berputar dan kita bersantai lantas tiba-tiba kita mendapatkan solusi atas masalah kita? Tentu tidak. Kita harus berusaha, berikhtiar mencari jawaban terbaik atas semua permasalahan kita. Ada Allah tempat kita mengadu yang tak pernah lelah untuk bukan hanya sekedar mendengar keluh kita tetapi memberikan jalan keluar. Ada orang-orang di sekitar kita yang lebih berpengalaman mungkin ketika menghadapi masalah yang sama dengan yang kita hadapi sekarang. Kita bisa meminta masukan berupa saran-saran terbaik yang harus kita lakukan untuk memecahkan masalah kita.

            Prita Nurulhuda…. Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Perjalanan ini masih panjang. Hidup kita tak terbatas hanya pada dunia saja. Hidup yang sesungguhnya, hidup yang sebenarnya, hidup yang abadi adalah hidup setelah mati. Kehidupan alam akhirat. Kampung halaman kita. Tempat yang akan kita tuju. Dunia ini adalah persiapan sebaik-baik bekal kita menuju kampung yang sebenarnya. SurgaNya. Insya Allah.

            Maka…. Lihatlah ke depan. Fokuskan diri. Buat lagi semua target-target terbesarmu di tahun ini. Harapan-harapanmu, cita-citamu, asa-asamu yang hendak kamu raih. Masa lalu itu telah mati. Namanya saja ma-sa la-lu. Berarti dia telah lewat dan berlalu. Jadikan saja sebagai cermin untuk tidak jatuh kembali di lubang yang sama. Karena mereka adalah pengalaman yang telah mengajari, bahwa hidup ini tak selalu lurus. Penuh liku, penuh duri, penuh luka, penuh ceria, penuh berbagai rasa. Mungkin kita sering terjatuh ketika menapaki jalan panjang hidup ini. Kita, manusia adalah tempat salah dan khilaf. Tetapi, Allah dengan segala kasih sayangNya yang tiada bertepi akan selalu membukakan jendela-jendela maafNya untuk kita. Dengan segala kemurah hatianNya, Allah selalu membentangkan jalan taubat kita untuk kembali ke haribaanNya.

            Lirik terakhir lagu Edcoustic di atas, menjadi semangat bagi saya khususnya. Agar tidak berputus asa dari rahmatNya, dari ampunanNya, dari petunjukNya, dari cintaNya. Selama kita masih diberikan nikmat hidup di dunia ini, teruslah berjuang, teruslah bergerak dan berjalan melewati liku perjalanan kehidupan ini. Karena jalan hidup itu masih panjang… tak hanya sekedar dunia…. Allahu’alam.




“Katakanlah, “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. “
(QS Az-Zumar : 53)

Minggu, 22 Januari 2012

Semangat Mereka Tak Pernah Padam


Bismillahirrahmaanirrahim…..

            Alhamdulillah…. Di semester 2 di tahun pelajaran 2011-2012 ini, saya di amanahkan oleh Allah anak-anak didik yang sangat luar biasa bagi saya. Semangat mereka luar biasa! Itu yang membuat saya ikut juga terpacu dengan semangat belajar serta berjuang mereka untuk belajar.

            Ketika sedang mengajar, sambil menatap lekat anak didik yang sedang membaca ayat-ayatNya. Kadang malah menerbangkan pikiran saya ke 6 tahun hadapan. Membayangkan seperti apakah rupa anak saya kelak, seperti apa akhlaknya, tertawanya, sedihnya dan sebagainya. Interaksi saya akhir-akhir ini dengan anak-anak didik sering membawa saya ke sana. Lucu banget dengan kepolosan mereka. Ya Allah… semoga anakku bisa sholih serta shalihah seperti anak-anak didikku sekarang. Bahkan lebih. Harapku. Insya Allah. Amin

            Hingga suatu hari, ayatul kauni Allah dihamparkanNya di depan saya. Melalui anak didik saya. Kelas 1 SD. Namanya Muhammad Fauzan Maulana. Saya terharu dengan daya juang sera semangatnya yang tinggi. Kala itu dia tidak mengerjakan tugas membaca Cahayaku di rumah. Dan sudah menjadi kesepakatan kami bersama, jika ada yang tidak mengerjakan PR membaca Cahaya di rumah maka akan membaca sebanyak 5x di sekolah. Maka Fauzan pun melaksanakan konsekuensinya ditambah dengan tugas membaca di sekolah sebanyak 3x. Jadi dia harus membaca sebanyak 8x.

            Sungguh saya benar-benar tidak menyangka bahwa dia mau serta sanggup mengerjakan segala konsekuensinya itu. Karena agak terbata dia membaca tiap kata. Tetapi dia terus membaca. Walaupun lambat tetapi memang bacaannya betul. Bahkan ketika saya sedang mengetes bacaan Cahayaku Fauzan Kamil kemudian saya menyuruhnya untuk kembali mengulang karena kurang lancar. Dengan sigap serta penuh semangat Fauzan Maulana menawarkan dirinya untuk membantu Fauzan Kamil untuk membaca bersama dengannya! Subhanallah….. mata saya berkaca-kaca. Terharu.

            Ya Allah… saya disadarkan oleh Allah lewat dia. Fauzan Maulana. Tentang arti sebuah daya juang serta semangat yang tiada pernah padam ketika belajar dan dalam hal apapun. Terima kasih ya nak. Semoga senantiasa menjadi anak shalih yang selalu semangat ya. Amiiin
###
            Kisah lain pun ada. Masih di level yang sama. Kelas 1 SD. Namanya Zidan Kasyafa AnNaba. Siang itu bagian kelompok kelas 1 yang menjadi giliran belajar di penghujung hari menjelang Zhuhur. Ketika saya hendak menyiapkan anak-anak untuk berdo’a penutup untuk pulang, Zidan berkata dengan sedikit berteriak pada saya.

“Ibu, aku pipis….” Ujar Zidan dengan ekspresi yang menunjukkan sedikit ketakutan

“Sekarang?” tanyaku. Saya mengira Zidan akan minta izin untuk ke kamar mandi tetapi dia menjawab lagi

“Iya bu sekarang lagi pipis.. yah, yah,, aku pipis di celana bu!!!” jawabnya lagi sambil mengerutkan muka nya lantas menangis

Teman-temannya yang lain pun bertanya-tanya pada saya. Tetapi segera mereka ku alihkan serta menyuruh mereka segera pulang. Dan menjawab singkat penasaran mereka dengan…

“Zidan mau pulang bareng Bu Guru, kalian ayo pulang duluan ya…. “ ujarku sambil menyalami anak-anak lainnya

            Dan Zidan dengan segala kecamuk perasaannya. Mungkin dia takut, malu, sedih. Campur aduk lah. Sempat juga kutanyakan kenapa dia tidak minta izin sebelumnya untuk ke kamar mandi. Dan menjelaskan bahwa  aku tidak akan melarangnya jika dia mau ke kamar mandi. Tetapi dia jawab dengan….

“Pipisnya dari tadi susah Bu…. Aku malu bu…” ujarnya khawatir

“Ya udah sayang gak apa-apa. Ibu gak marah sama Zidan. Udah pipisnya? Ayo kita ke kelas yuk, Zidan 
taro sandal dimana? Ayo bareng Bu Prita yuk ke kelasnya ya….” Ujarku berusaha menenangkannya sambil mengelus kepalanya. Kasian, mungkin lagi kurang sehat yah kamu nak? Ujarku dalam hati.

            Sepanjang perjalanan Zidan sudah tidak menangis lagi. Aku salut sama Zidan. Untuk se umuran dia, dia termasuk anak yang cukup tangguh. Bahkan mungkin tadi dia tidak ingin menangis. Mungkin bentuk menangisnya tadi karena dia takut dimarahi olehku, di ketahui oleh teman-temannya dan sebagainya.

            Sesampainya di kelasnya, Zidan ga mau masuk kelas. Akhirnya aku yang masuk lantas memberitahu kepada Wali kelasnya dan aku menghampiri kembali Zidan yang ada di selasar kelas. Mau member sedikit motivasi padanya…

“Sholih sayang… sudah ya jangan nangis. Gak apa-apa kok. Bu Guru ga marah kan? Zidan juga gak apa-apa kan? Lain kali kalo mau izin gak apa ya sayang. Oke? Senyum donk. Tos sama Bu Prita….” Ujarku sambil bertos dengannya.

            Alhamdulillah…. Walau masih malu. Zidan sudah mau bertos denganku. Dan itu juga sedikit  membuatku lega dan tak membuat dia merasa down dengan kejadian barusan.

            Ya Allah…. Kejadian ini. Membawa sejuta cerita indah ke hantaran alam pikiranku. Sholih banget deh Zidan… Ada harapan kelak di masa hadapan punya anak yang sholih sepertinya. Zidan juga termasuk anak yang unggul di kelompok. Hafalannya juga yang paling tinggi dan untuk ukuran se umurnya. Alhamdulillah hafalannya sudah Al-Bayyinah.

            Dan yang lebih mengejutkannya lagi. Ketika besoknya aku bertemu dengannya lagi di pembelajaran, ada barisan kata yang makin membuatku sejuk dengannya. Dia berujar…
“Ibu…. Aku minta maaf ya kemaren merepotkan ibu…” ujarnya sambil menyalamiku.
Reaksiku Cuma 1. Speechless!

###


* Ya Allah…. Harapku kepadaMu sang satu-satunya tempat berharap serta bergantung. Karuniakanlah hamba anak-anak yang sholih serta shalihah. Yang kelak menjadi amanah yang KAU titipkan hamba bersama kelak dengan mujahidku di dalam satu biduk rumah tangga. Dan berikanlah kami kekuatan untuk mendidik mereka dengan sebaik-baik pendidikan serta sebaik-baik cinta karenaMu, di jalanMu dan hanya untukMu. Kelak KAU jadikann keturunan kami menjadi mujahid serta mujahidah penerus kejayaan DienMu Ya rabb. Amiiin. Insya Allah…





“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku….” (QS Ibrahim : 40)