Tampilkan postingan dengan label guru kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label guru kehidupan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2012

Miss you!


Bismillahirrahmaanirrahim …

Ada kejutan tersendiri waktu sabtu lalu saya membuka facebook. Ada upload-an seseorang di timeline saya yang membuat terharu. Tertegun. Membuat kbangan kecil di pelupuk mata saya. Ada do’a indah tertulis dalam gambar hasil kreasi 2 foto wanita di sana. Salah satunya ada foto saya. Ya Allah, speechless banget. Cuma bisa bilang Jazakallah khair buat Deni atas do’a dan kreasi fotonya. Dan terdalam buat foto wanita yang bersama saya, miss u much sist!


Ga menyadari, kalo ternyata PP  kita sama posenya ^^





*My dearest Liawati, kapan bisa ketemu lagi?

Minggu, 25 Maret 2012

Wanita Shalihah



Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.
(HR. Muslim)


            Sebuah matan hadits yang mengandung makna yang begitu dalam, sedalam lautan qalbu. Menyirat makna yang tinggi, setinggi langit yang terus membumbung menuju titah Tuhannya.  Anggun, indah, mempesona, menyenangkan, dan seterusnya, jika teruntai tak akan habis memujinya. Dialah Wanita.
           
            Namun,,, tak semua wanita akan menjadi terhormat dan teragung dihadapan Rabb-Nya. Masing-masing memilih jalan yang telah digariskan. Akal, nafsu, nurani menjadi nakhoda penggerak merentas bahtera kehidupan yang selalu bersahabat dengan badai. Terkadang mereka berdiri tegak dalam pijakkanya, berteriak ِAku adalah yang terbaik, bahkan ada yang berani mengatakan, keshalihan itu relatif, tidaklah perlu saling menyalahkan. Namun, nurani-fitrawi tak pernah menutup matanya tuk mengakui, intan adalah intan dan lumpur adalah lumpur. 

            Demikian wanita Shalihah,,, adalah kebaikan yang yang terwujud dalam sosok makhluk yang bernama Hawa. Wujudnya telah terukir indah dalam sabda-sabda cinta Muhammad Shallahu’alaihi wasallam. Padanya tersemat mahkota Perhiasan Dunia yang paling terindah, bukan mutiara La Peregrina, bukan Batu Zamrud, bukan Permata Cleopatra, bukan Intan Aztec, bukan pula batu emas  atau perhiasan apapun di dunia ini. Keindahannya terus kekal, abadi hingga menuju singgasana Syurgawi.

            Perhiasan itu bisa redup bisa pula mengilau jika dijaga dan terus diasah.
            Dalam sabda cintanya, Rasulullah telah menunjukkan kilauan-kilauan dan aroma mereka.

Wanita shalihah adalah sebaik-baik keindahan, menatapnya menyejukkan Kalbu, mendengarkan suarannya menghanyutkan batin, ditinggalkan menambah keyakinan.,, , Wanita shalihah adalah ibu dari anak-anak yang mulia, wanita shalihah adalah istri yang meneguhkan jihad suami, wanita shalihah penebar rahmat bagi rumah tangga, cahaya dunia dan akhirat, wanita Shalihah adalah adalah bidadari syurga yang hadir di dunia,,,,,


            Dia begitu sempurna, Ikhlas bagai Siti Hajar, Tawadhu’  bagai Bilqis, sabar bagai Khadijah, teguh bagai Sumayya, cerdas bagai Aisyah dan santun bagai Fathima Az Zahra.

            Itulah kilauan wanita Shalihah,,, tapi sebagai manusia, pasti ada kekurangannya, namun kekurangan itu terus diikhtiar dalam penyempurnaan.

            Menjadi wanita Shalihah adalah idaman fitrawi setian muslimah,,, menjadi wanita Shalihah bukan berarti menjadi bidadari, menjadi wanita shalihah bukan menjadi putih yang tek berbekas,,, menjadi wanita shalihah adalah proses menuju keridha’an Allah. Menapaki jalan yang di atasnya tercerahi cahaya petunjuk Allah dan Rasulnya, dan terus istiqomah di atasnya.


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum
maka ia akan dibangkitkan bersama kaum itu
(HR. Abu Dawud)

Insya Allah


Wallahu’alam…..


 
“I am just the ordinary woman but I try to keep learn, learn and learn about everything ever after
To be a good one… Shalihah. Insya Allah. Amiiin….” (ta.89)
  







Pilihan Kita


Bismillahirrahmaanirrahim…..

Sebuah berita yang kurang “sedap” sampai di telinga saya pekan kemarin. Seorang teman yang juga satu kelas dengan saya di kelas perkuliahan mengeluhkan keanehan kedekatan saya dengan seorang teman akhwat dikelas. Wallahu’alam apa yang ada dalam fikirannya. Sempat merasa sangat tidak menyangka jika dia bisa berbicara seperti itu. Kabar ini saya dapatkan dari orang ke berapa gitu. Jadi rutenya panjang deh.

Sempat pula agak terbawa emosi dengan apa yang katakan. Mungkin tanpa sadar juga ada sedikit perubahan dalam diri saya. Astaghfirullah!

Sekarang, lagi-lagi saya dihadapkan kepada pilihan. Apakah saya mau bersikap negative atas berita yang kurang “sedap” itu atau mengambil sikap positive? Pilihan itu sama kuatnya. Tinggal saya lah yang memilih diantara kedua pilihan tersebut.

Sebenarnya saya benar-benar ingin tertawa dengan adanya berita ini semua. Tapi okelah, mari kita pilih jalan penyelesaian terbaik untuk masalah ini. Insya Allah.

Apakah keuntungannya jika saya mengambil sikap yang negative? Misalnya, ketika saya memutuskan untuk melabrak seseorang yang merupakan sang narasumber berita kurang “sedap” ini begitu? Atau marah-marah ga jelas? Atau putus asa dan terus berlarut-larut dengan perkataan sang “narasumber” ??

Astaghfirullah! Semoga Allah menghindari saya dari sikap yang demikian. Amin.

Insya Allah saya adalah orang yang tidak mau mengambil pusing dengan masalah. Memangnya dia tahu betul begitu seperti apa saya? Interaksi saya dengan semua teman-teman? Memangnya omongannya dia berpengaruh begitu pada keberhasilan hidup saya?

Dan satu pertanyaan paling mudah yang saya tujukan kepada diri saya sendiri. Memangnya benar apa yang “narasumber “ katakan tentang kamu ta?? Jelas tidak!

Maka pilihan saya adalah mengambil sikap positive. Membiarkan sang “narasumber” dengan pemikirannya terhadap saya, membiarkan dia bertanggung jawab dengan Allah atas perbuatannya, membiarkan semua ini menjadi pemacu semangat saya. Mengubah berita kurang “sedap” ini dengan sebuah perubahan positive dalam diri saya. Tidak usah banyak bicara, cukup buktikan dengan tindakan nyata. Buktikan dengan karya terbaik!

Masih banyak harapan, impian, cita saya yang menanti untuk diwujudkan. Masih banyak hal yang saya fikirkan dan saya perjuangkan dibanding dengan mengeluarkan energi yang sia-sia untuk bersikap negative kepadanya.

Yang kini saya lakukan untuk sang “narasumber”. Mendo’akannya, semoga saya adalah orang terakhir yang menjadi bahan pemberitaannya dan yang utama agar Allah mengampuni dosa-dosanya. Amiiin. Insya Allah.

                                                                                 Faghfirli ya Rabb….Faghfirli...Faghfirli....
                                                                                                Wallahu’alam hissawab…..







Minggu, 18 Maret 2012

Ketika Anak Meminta


Bismillahirrahmaanirrahim…..

“Mah…. Pokoknya aku mau beli buku ini ya!” Ujar seorang gadis kecil sambil berlari menuju pada ibunya dengan membawa sebuah buku.

“Ah ade… apa sih? Kamu sok tahu aja, memangnya kamu ngerti apa isi bukunya?” Jawab sang Ibu sambil berlalu dan melihat buku di rak2 lainnya

“Iiih… pokoknya aku mau beli dan baca buku ini!!” Rengek sang anak

Akhirnya ada jawaban yang melegakan dari seseorang…..

“Iya nak, iya gak apa-apa kita beli ya. Nanti cerita ke papa ya sayang bukunya cerita tentang apa. Ok? “ ujar lelaki berkacamata yang ternyata adalah ayah dari gadis kecil itu.

“Oke pah… nanti aku certain. Pasti seru ceritanya…” ujar sang gadis kecil
###

                Percakapan di atas adalah sebuah percakapan singkat suatu keluarga kecil yang saya temui di salah satu stand buku di IBF tahun 2012 ini. Suatu siang saya dipertemukanNya dengan mereka. Saya yakin ada cerita unik serta hikmah yang bisa kita ambil dari kisah singkat ini. Insya Allah.

                Pertama, tentang respon sang ibu kepada gadis kecilnya yang meminta sebuah buku. Pantaskah seorang Ibu menanggapi respon seorang anak yang sedang ingin tahu terhadap sesuatu dengan sikap seperti itu? Bukannya pula  saya menjudge ibu itu berlaku salah atau apa pun. Setidaknya saya belajar dari beliau dan sedikit memahami jika saya di posisikan sebagai ‘gadis kecil’ itu. Saya berfikir, meski mungkin harus saya telaah lagi dan mencari teorinya tentang “gold age” seorang anak, tetapi setidaknya saya melihat ada rasa keingintahuan dari sang anak tentang hal yang belum diketahuinya. Itu merupakan hal yang sangat baik menurut saya. Dia belajar untuk mengkritisi suatu masalah yang baru baginya. Maka tugas kita sebagai orang tuanya, arahkanlah rasa keingintahuannya dengan baik. Hal ini berguna pula untuk perkembangan dirinya, kecerdasannya dan pemahamannya tentang hal yang baru.

                Kedua, tentang respon sang ayah yang sangat bijak menanggapi suatu keinginan dari anak gadisnya. Saya fikir, sang ibu harus mencontoh sang suami. Jangan terlebih dahulu kita mebuat sebuah pernyataan kepada anak jika dia mengajukan sesuatu yang dia inginkan. Pasti ada suatu alasan yang sangat mendasar dan yang membuat anak ingin tahu. Dan kedua hal inilah yang seharusnya kita gali lebih dalam dari diri anak. Inilah proses perkembangannya.
                                Dua pelajaran di atas, mungkin bisa jadi hikmah tersendiri bagi diri saya sendiri. Saya  sedikit menyimpulkan sebuah benang merah dari sebuah peristiwa yang pernah saya temui. Yang kelak, insya Allah menjadi pelajaran berharga ketika nanti saya dihadapkan dengan anak saya sendiri. Kelak mereka mengungkapkan rasa keingintahuannya pada saya. Semoga saya selalu ingat dengan kisah ini. Insya Allah. Amin.

                Dan pada akhirnya, saya selalu ingat dengan penutup kisah gadis kecil itu dengan rasa keingintahuannya yang besar, ibunya serta ayahnya. Sebuah ending yang saya miriskan sekali.

                Ketika buku-buku yang sudah dipilih oleh ibu, ayah serta gadis kecil itu hendak dihantarkan ke meja kasir, sang ibu langsung menyuruh pramuniaga stand buku tersebut untuk meletakkan kembali buku yang diambil anaknya. Ibu itu terlihat sedang berdialog singkat dengan sang anak sebelum membatalkan membeli buku pilihan anaknya. Terlihat sedikit gurat kekecewaan dari anak gadis itu. Tetapi sepertinya ibu tadi menjanjikan sesuatu yang mungkin sedikit membuat anaknya terhibur.

                Ya Allah… miris sekali lihatnya. Hmm… dan saya pun teringat selalu dengan judul buku yang diambil gadis kecil itu. Saya yakin ada sesuatu hal yang ingin sanga anak sampaikan melalui buku itu. Dan judul buku itu ternyata adalah… “MASA DEPAN ANAK”


Wallahu’alam hissawab….

Minggu, 04 Maret 2012

Hadiah Untuk Bu Prita


.Bismillahirrahmaanirrahiim…..
                “Hadiah-hadiah” dari anak level 3 yang akhwat. Mereka memberikan saya hasil karya mereka menggambar saya.
Inillah gambar-gambar mereka……

Gambar dari Elysia Najla

Gambar dari Syeila Afriliani

Gambar dari Faiza Yasmina A

Gambar dari Shofiya Nur Kamilah



Gambar Bebek


Bismillahirrahmaanirrahim…….

“ Bu, ibu bisa gambar bebek ga bu?”

                Pertanyaan itu terlontar polos dari Amalia Fitriah Salsabila, anak didikku di level 2. Waktu itu dia sepertinya sedang berfikir keras untuk menggambar salah satu objek hewan. Setelah bertanya kepada saya, yang dijawab oleh saya

“Coba aja atuh Amel buat dulu gambar bebeknya, nanti kalo ada kesulitan baru ibu bantu ya…..” ujarku sambil memperhatikan anakku sedang membaca jilid Cahayaku di depanku.

Mata Amel langsung mengarah ke atas. Nampaknya sedang berimajinasi dengan pikirannya tentang bebek. Tak lama dia bertanya lagi kepada saya.

“ Bu, kalo bebek itu ada kan ya bu yang makan apel?” Tanya Amel

“Makan apel? Hmm…. Mungkin ada ya nak. Bebeknya biar sehat, banyak makan buah-buahan. Hehe….” Jawabku sambil tertawa kecil pada Amel, yang disambut senyum pula olehnya

                Tahu tidak apa yang saya fikirkan saat itu? Saya kira itulah masa emas anak-anak dalam tahap proses perkembangan kecerdasannya. Meski saya belum tahu teori  jelasnya seperti apa. Tapi akhirnya saya bisa sedikit memahami dan membiarkan prose itu berlangsung. Nikmati waktumu ya nak….

                Tidak selang berapa lama, Amel  bertanya pada dirinya sendiri lagi sambil memegang pensil yang diketuk-ketukkan pelan kea rah kepalanya, tanda lagi berfikir. Hihi…

“Gimana yah caranya gambar bebek yang bisa terbang???” tanyanya pada dirinya sendiri.

Kemudian dia berujar lagi….. “ Aha! Aku tahu deh….” Ujarnya senang sambil langsung mengarahkan pensilnya ke media yang sudah menuangkan segala imajinasi di alur fikirannya.

                Melihatnya berhasil mendapatkan momen “Aha”, Alhamdulillah… ada bahagia yang tak terkira. Dua hari kemudian, saya tanya lagi tuh sama Amel perihal gambar bebeknya kemarin . Dia tersenyum dan langsung menyerahkan gambarnya untuk saya sambil berujar…

“Ini gambar bebeknya buat Ibu….. Maaf ya bu kalo jelek, Amel lagi belajar gambar bagus” ujar Amel sambil tersenyum

Saya pun menjawab sambil menahan haru, “Ya makasih ya nak, ini juga sudah hebat nak! Gambarnya bagus, nanti gambar yang lain lagi ya sayang…” ujarku sambil mengelus kepalanya dan tersenyum.


Sabtu, 25 Februari 2012

Kesan Mereka....


Bismillahirrahmaanirrahim……..



                Muhammad Khairul Azzam Alhafidz. Nama itulah yang selalu kian mengingatkan saya di akhir pembelajaran semester ganjil kemarin. Di secarik kecil note yang saya berikan kepadanya, dia menuliskan kata-katanya untuk saya.

“ Azzam akan janji hafalannya akan nambah”

            Deg! Hati saya langsung terenyuh dalam diam. Terharu. Tanpa sadar menyisakan bulir kaca di mata saya. Hampir saja terjatuh. Hampir. Tapi saya alihkan dengan langsung membaca kertas yang lainnya. Mengapa saya begitu kian terharu membaca kertas pesan Azzam dibanding anak yang lain? Karena ketika pembelajaran saya memang selalu mengingatkan hafalan-hafalannya. Dengan agak tegas juga sepertinya. Ketika mengingatkannya, kadang dijawab malas. Tapi juga disambut semangat untuk terus menambah hafalannya.

Memang menjadi kebiasaan saya selalu menyediakan kertas-kertas kecil untuk semua anak-anak didik saya di akhir pembelajaran mereka di semester itu. Mereka menuliskan kesan-kesan selama belajar bersama dengan saya. Semua tulisan mereka romantis. Semua tulisan mereka selalu menyentuh saya. Semua tulisan mereka selalu membuat sunggingan senyum simpul di wajah saya. Semua tulisan mereka membuat saya selalu rindu kepada mereka. Semua tulisan mereka selalu mengharukan serta menyisakan bulir-bulir air yang kian jatuh. Semua tulisan mereka kini melayangkan saya ke waktu di hadapan….

Kelak nanti…. Jika saya sudah memiliki buah hati, pesan romantis apa yang mereka berikan pada saya yah? (^^)

Wallahu’alam hissawab….

Affirmasi....

# Dear anak-anakku yang shalih dan shalihah…. Kelak Allah akan mempertemukan kita ya nak. Kita nanti belajar bersama dalam ruang kelas tanpa batas bernama kehidupan. Belajar bersama menjadi generasi Qur’ani, penerus kejayaan dienNya. Belajar bersama saling memahami, mengerti, mengisi, mengasihi, mencintai dengan sepenuh hati. Belajar bersama untuk bisa meniatkan segala sesuatu hanya karenaNya, di jalanNya, dan untukNya. Belajar nak…. Dan terus belajar….. do’ain ya nak. Ibu sedang dipersiapkanNya untuk menjadi pendidik terbaik untuk kalian semua…. Insya Allah. Amiiin. Amiiin. Amiiin Ya rAbb. Ibu rindu kalian, selalu…..


Minggu, 22 Januari 2012

Semangat Mereka Tak Pernah Padam


Bismillahirrahmaanirrahim…..

            Alhamdulillah…. Di semester 2 di tahun pelajaran 2011-2012 ini, saya di amanahkan oleh Allah anak-anak didik yang sangat luar biasa bagi saya. Semangat mereka luar biasa! Itu yang membuat saya ikut juga terpacu dengan semangat belajar serta berjuang mereka untuk belajar.

            Ketika sedang mengajar, sambil menatap lekat anak didik yang sedang membaca ayat-ayatNya. Kadang malah menerbangkan pikiran saya ke 6 tahun hadapan. Membayangkan seperti apakah rupa anak saya kelak, seperti apa akhlaknya, tertawanya, sedihnya dan sebagainya. Interaksi saya akhir-akhir ini dengan anak-anak didik sering membawa saya ke sana. Lucu banget dengan kepolosan mereka. Ya Allah… semoga anakku bisa sholih serta shalihah seperti anak-anak didikku sekarang. Bahkan lebih. Harapku. Insya Allah. Amin

            Hingga suatu hari, ayatul kauni Allah dihamparkanNya di depan saya. Melalui anak didik saya. Kelas 1 SD. Namanya Muhammad Fauzan Maulana. Saya terharu dengan daya juang sera semangatnya yang tinggi. Kala itu dia tidak mengerjakan tugas membaca Cahayaku di rumah. Dan sudah menjadi kesepakatan kami bersama, jika ada yang tidak mengerjakan PR membaca Cahaya di rumah maka akan membaca sebanyak 5x di sekolah. Maka Fauzan pun melaksanakan konsekuensinya ditambah dengan tugas membaca di sekolah sebanyak 3x. Jadi dia harus membaca sebanyak 8x.

            Sungguh saya benar-benar tidak menyangka bahwa dia mau serta sanggup mengerjakan segala konsekuensinya itu. Karena agak terbata dia membaca tiap kata. Tetapi dia terus membaca. Walaupun lambat tetapi memang bacaannya betul. Bahkan ketika saya sedang mengetes bacaan Cahayaku Fauzan Kamil kemudian saya menyuruhnya untuk kembali mengulang karena kurang lancar. Dengan sigap serta penuh semangat Fauzan Maulana menawarkan dirinya untuk membantu Fauzan Kamil untuk membaca bersama dengannya! Subhanallah….. mata saya berkaca-kaca. Terharu.

            Ya Allah… saya disadarkan oleh Allah lewat dia. Fauzan Maulana. Tentang arti sebuah daya juang serta semangat yang tiada pernah padam ketika belajar dan dalam hal apapun. Terima kasih ya nak. Semoga senantiasa menjadi anak shalih yang selalu semangat ya. Amiiin
###
            Kisah lain pun ada. Masih di level yang sama. Kelas 1 SD. Namanya Zidan Kasyafa AnNaba. Siang itu bagian kelompok kelas 1 yang menjadi giliran belajar di penghujung hari menjelang Zhuhur. Ketika saya hendak menyiapkan anak-anak untuk berdo’a penutup untuk pulang, Zidan berkata dengan sedikit berteriak pada saya.

“Ibu, aku pipis….” Ujar Zidan dengan ekspresi yang menunjukkan sedikit ketakutan

“Sekarang?” tanyaku. Saya mengira Zidan akan minta izin untuk ke kamar mandi tetapi dia menjawab lagi

“Iya bu sekarang lagi pipis.. yah, yah,, aku pipis di celana bu!!!” jawabnya lagi sambil mengerutkan muka nya lantas menangis

Teman-temannya yang lain pun bertanya-tanya pada saya. Tetapi segera mereka ku alihkan serta menyuruh mereka segera pulang. Dan menjawab singkat penasaran mereka dengan…

“Zidan mau pulang bareng Bu Guru, kalian ayo pulang duluan ya…. “ ujarku sambil menyalami anak-anak lainnya

            Dan Zidan dengan segala kecamuk perasaannya. Mungkin dia takut, malu, sedih. Campur aduk lah. Sempat juga kutanyakan kenapa dia tidak minta izin sebelumnya untuk ke kamar mandi. Dan menjelaskan bahwa  aku tidak akan melarangnya jika dia mau ke kamar mandi. Tetapi dia jawab dengan….

“Pipisnya dari tadi susah Bu…. Aku malu bu…” ujarnya khawatir

“Ya udah sayang gak apa-apa. Ibu gak marah sama Zidan. Udah pipisnya? Ayo kita ke kelas yuk, Zidan 
taro sandal dimana? Ayo bareng Bu Prita yuk ke kelasnya ya….” Ujarku berusaha menenangkannya sambil mengelus kepalanya. Kasian, mungkin lagi kurang sehat yah kamu nak? Ujarku dalam hati.

            Sepanjang perjalanan Zidan sudah tidak menangis lagi. Aku salut sama Zidan. Untuk se umuran dia, dia termasuk anak yang cukup tangguh. Bahkan mungkin tadi dia tidak ingin menangis. Mungkin bentuk menangisnya tadi karena dia takut dimarahi olehku, di ketahui oleh teman-temannya dan sebagainya.

            Sesampainya di kelasnya, Zidan ga mau masuk kelas. Akhirnya aku yang masuk lantas memberitahu kepada Wali kelasnya dan aku menghampiri kembali Zidan yang ada di selasar kelas. Mau member sedikit motivasi padanya…

“Sholih sayang… sudah ya jangan nangis. Gak apa-apa kok. Bu Guru ga marah kan? Zidan juga gak apa-apa kan? Lain kali kalo mau izin gak apa ya sayang. Oke? Senyum donk. Tos sama Bu Prita….” Ujarku sambil bertos dengannya.

            Alhamdulillah…. Walau masih malu. Zidan sudah mau bertos denganku. Dan itu juga sedikit  membuatku lega dan tak membuat dia merasa down dengan kejadian barusan.

            Ya Allah…. Kejadian ini. Membawa sejuta cerita indah ke hantaran alam pikiranku. Sholih banget deh Zidan… Ada harapan kelak di masa hadapan punya anak yang sholih sepertinya. Zidan juga termasuk anak yang unggul di kelompok. Hafalannya juga yang paling tinggi dan untuk ukuran se umurnya. Alhamdulillah hafalannya sudah Al-Bayyinah.

            Dan yang lebih mengejutkannya lagi. Ketika besoknya aku bertemu dengannya lagi di pembelajaran, ada barisan kata yang makin membuatku sejuk dengannya. Dia berujar…
“Ibu…. Aku minta maaf ya kemaren merepotkan ibu…” ujarnya sambil menyalamiku.
Reaksiku Cuma 1. Speechless!

###


* Ya Allah…. Harapku kepadaMu sang satu-satunya tempat berharap serta bergantung. Karuniakanlah hamba anak-anak yang sholih serta shalihah. Yang kelak menjadi amanah yang KAU titipkan hamba bersama kelak dengan mujahidku di dalam satu biduk rumah tangga. Dan berikanlah kami kekuatan untuk mendidik mereka dengan sebaik-baik pendidikan serta sebaik-baik cinta karenaMu, di jalanMu dan hanya untukMu. Kelak KAU jadikann keturunan kami menjadi mujahid serta mujahidah penerus kejayaan DienMu Ya rabb. Amiiin. Insya Allah…





“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku tetap melaksanakan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do’aku….” (QS Ibrahim : 40)