Tampilkan postingan dengan label menuju paham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menuju paham. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Oktober 2014

Being Myself

Bismillahirrahmaanirrahim ....

Kesan pertama lihat foto perempuan itu, hanya tiga kata. Ceria, cantik dan modis. Begitu mungkin persisnya saya lihat. Kalau mau bilang tambahan positif lainnya lagi juga sebenarnya makin banyak, dan makin memojokkan saya. Kadang memang begitu kalau kita melihat orang lain yang “lebih” dari diri. Langsung jadi minder dan rendah diri.

Iri? Ya mungkin bisa dibilang begitu. Siapa yang ga suka sih menjadi orang yang selalu cantik, mengikuti trend fashion yang ada, biasanya akan dianggap orang yang paling keren. Apalagi kalau orangnya perempuan, hehe. Tetapi lubuh hati yang dalam menasehati, “jangan begitu”. Mungkin kelanjutannya akan berbunyi begini... Setiap makhluk yang Allah ciptakan mempunyai kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Kekurangan yang ada pada diri kita bukan untuk dicerca. Tetapi di syukuri, dengannya kita akan jauh lebih belajar menyeimbangi diri dengan kelebihan yang ada. Menjadikan semuanya sebuah sinergi positif dan ungkapan syukur kepada Allah. Semua juga yang melekat sama diri kita ini punyaNya kok, ga ada sehelai batang rambut sekalipun yang tumbuh ini mutlak milik kita. Atas kuasa dan kemurah hatinya Allah, maka kita dipinjamkan semua anugerah indah itu. Sungguh, semuanya itu indah yang DIA berikan. Hanya mata kita kadang silap dengan melihat apa yang orang lain punya. Dan kita jadi menzalimi diri sendiri dengan membandingkannya kepada kekurangan sendiri. Jadi deh kufur, astaghfirullah.


Sekelebat foto perempuan itu muncul lagi. Pertanyaan-pertanyaan membanjiri benak saya lagi, “mau apa saya dengan bersikap begini? Apa untungnya iri lagi? Ingin sepertinya?”. Ya bisa jadi, mau jadi seperti dia, tetapi tentu saja tidak bisa dipaksakan sepertinya. Karena buat saya, ya itu bukan saya. Dan sungguh tidak nyaman sepertinya. Dan akhirnya saya pun tersadar, saya tak perlu menjadi orang lain. Saya hanya perlu menjadi diri saya sendiri. Dengan semua kelebihan dan kekurangan yang ada. This is who I am and the way I am.

Bogor, belajar (lagi) jadi diri sendiri

Minggu, 30 September 2012

Kembali


Bismillahirrahmaanirrahim……


Harapan dari setiap insan
Kesenangan serta ketenangan
Menjalani hidup ini
T
anpa ada cubaan

Sayang harapan itu tak pasti
Kerna cubaan akan terjadi
‘Tuk menguji sabar diri
Dan ketaqwaan

Akan kah kita tetap tegar menjalaninya dgn keikhlasan
Ataukah terjerumus ke dalam keputus asaan

Katakanlah kali ini adalah miliknya Allah
Yang akan kembali kepadaNya
Kapan dan dimana sahaja
Dan berdoalah mohon ampunan
Dari semua kesalahan

Agar mendapat keredhaan
Dan pertolongan 

*Maka kembalilah hanya kepadaNya

Jumat, 22 Juni 2012

UIKA -My Story-


Bismillahirrahmaanirrahim…….

Alhamdulillahirrabil’alamin….

Sampai juga di penghujung tahun kedua saya di kampus saya tercinta. Akhir pembelajaran saya di semester 4 tahun 2011/2012. Kemarin selama sepekan tuh baru saja saya selesai UAS. Bagaimana rasanya ta ujiannya? Mantep…. Kayak makan permen nano-nano. Manis, asam, asin, ramai rasanya. –iklan banget c???- hehe

Ujian hari terakhir, pengawas menyebarkan  kertas berisi keterangan studi di semester depan. Semester ganjil tahun  pembelajaran 2012-2013. Jadi, insya Allah besok bulan September saya sudah berada di semester 5. Insya Allah, kalau Allah sampaikan umur saya di bulan tersebut. Insya Allah.

Lihat kertas itu, jadi mengawangkan pikiran saya di suatu hari di tahun 2008. Yuk mari kita rewind sebentar ke salah satu hari di tahun 2008…..

My flash back in 2008

Hari itu saya tengah berdiri di halte shelter UIKA bus trans pakuan Bogor. Menunggu kedatangan bus yang tak kunjung tiba meski saya sudah berdiam disana selama kurang lebih 10 menit. Armada busnya memang tidak sebanyak bus-bus lain atau angkutan kota yang sedari tadi berseliweran menawarkan saya untuk naik. Tapi saya tolak dengan senyum sambil menggelengkan kepala. Bukan arah tujuan saya sih masalahnya.

Sembari menunggu bus pakuan yang belum tiba, akhirnya saya hempaskan diri untuk duduk. Mengedarkan pandangan saya ke jalan raya di hadapan yang ramai lancar. Lalu saya menoleh ke arah tempat saya duduk. Saya menangkap sebuah gedung tinggi berlantai 3 dengan tulisan besar di salah satu lantainya bertuliskan “Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan”.

Entah kenapa terlintas dalam benak dan kemudian saya berujar pada diri saya sendiri bahwa kelak saya akan berada di dalam Fakultas itu. Menuntut ilmu di Universitas yang namanya menjadi salah satu shelter bus yang tengah saya duduki kini.

Semasa kecil, pelajaran yang paling saya senangi adalah bahasa inggris. Mungkin ini sebuah ambisi diri saya untuk terus memperdalamnya hingga ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Mungkin.

Lamunan saya terbuyarkan karena bus yang saya tunggu telah datang.

Dan akhirnya atas izin serta kehendaknya bulan Juli 2010 pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Universitas itu, mendaftarkan diri menjadi mahasiswi di sana. Alhamdulillah, Allah jawab do’a saya.

Bulan-bulan pertama saya di awal perkuliahan memang agak berat. Karena pagi harinya saya harus kerja mengajar di salah satu sekolah dan sorenya saya sudah harus berada dalam kelas mengikuti perkuliahan. Menjelang pukul 21.00 saya baru sampai di rumah dengan rasa lelah yang luar biasa. Belum lagi jika di tengah jalan sopir angkot menurunkan saya di tengah jalan, karena alasan ingin segera pulang lah, atau tidak mau ditagih uang tambahan, menghindari amukkan tukang ojek, dan sebagainya. Bisa dipastikan sesampainya saya di rumah lebih dari jam 21.00. Tetapi saya benar-benar menikmati semuanya. Karena Allah yang menguatkan saya untuk selalu bertahan. Insya Allah.

Perlahan saya menyadari bahwa, apa yang tengah saya pelajari di perkuliahan semuanya menjuru kepada pendidikan. Parahnya saya benar-benar ga ngeh banget ketika mendaftar.

Balik lagi ya ke tahun 2012….

Akhirnya saya yang sekarang, sering bertanya-tanya dalam hati deh. Berfikir dan merasa bahwa sepertinya saya salah jurusan. Apakah masih ingin lanjut? Berhenti dan mengulang dari awal lagi di jurusan yang lain? Apakah tujuan saya di perkuliahan yang tengah saya jalani kini? Apakah hanya sekedar ambisi saya ingin kuliah?

Pertanyaan it uterus menari-nari dalam benak saya. Tapi saya juga berfikir, bahwa ini adalah tahun kedua saya kuliah. Berarti sudah setengah jalan menuju kelulusan, insya Allah. Kenapa saya bingung gini yah? Garuk-garuk kepala aja deh. Hehehe.

Eh, ga lama saya dipertemukan Allah oleh teman ayah seorang psikolog, lulusan dari UNPAD. Kami sudah lama tidak bertemu, sekitar 4 tahun an deh. Beliau banyak cerita-cerita dan akhirnya menanyakan bagaimana keseharian saya sekarang. Trus…. Kesempetan deh saya curhat aja sama beliau. Perihal kebingungan saya yang seperti salah ambil jurusan. Eh beliau malah bilang gini…

“ Gak apa-apa ta, lanjutin aja kuliahnya. Insya Allah, kamu tidak sama sekali salah dalam mengambil jurusan. Dulu saya juga sama kayak kamu deh. Insya Allah, semuanya Allah yang tunjukkan kamu ta. Bismillah aja….” Ujar beliau dengan sangat antusiasnya

“oh begitu ya bu, iya deh Insya Allah saya lanjut…. Makasih ya bu sarannya” jawabku dengan senyuman

Alhamdulillah….. saya sangat bersyukur sekali waktu itu. Saya merasa bahwa do’a saya di bayar kontan oleh Allah. Pertanyaan saya langsung di jawab oleh Allah. Terima kasih ya Allah, atas jawabanMu yang makin menguatkan hamba.

Sekarang, ya ga ada istilah salah jurusan dan sebagainya. Inilah sebuah jalan yang Allah tunjukkan kepada saya. Semoga Allah senatiasa menguatkan saya dalam menjalani semua proses pembelajaran di jurusan, fakultas, dan universitas yang telah saya pilih.

Semua pilihan yang kita pilih ada konsekuensinya yang harus kita jalani. Sebagai wujud tanggung jawab kita atas pilihan hidup yang ingin kita tempuh. Juga sebagai ungkapan syukur kita kepada Allah atas seluruh anugerah yang Allah titipkan pada kita. Insya Allah, amiiin.

*Kuatkanku ya Rabb….

Minggu, 06 Mei 2012

Semua Berbicara Tentang Ibu


Bismillahirrahmaanirrahim…..

Tulisan yang saya buat ini adalah sekumpulan syair-syair indah dalam lagu-lagu yang tak asing lagu siapa yang membawakan alunan ini sehingga sampai juga di telinga serta hati kita.

Tulisan yang saya buat ini terinspirasi dari seorang anak level 2, Yusuf Fatha Mubina,  “teman” saya belajar di UQ. Waktu itu ada acara pentas dari anak-anak level 1 yang diadakan di lapangan. Mereka mementaskan sebuah drama dan di iringi salah satu lagu yang saya tulis di bawah ini. Lagunya abi Haddad Alwi bersama Farhan yang judulnya “ Ibu”. Pengeras suara dari lapangan upacara di lantai 1 sangat terdengar jelas bagi kami yang ada di lantai 2.

Kemudian…….

Fatha (panggilan “teman” saya) langsung menitikkan air mata. Melinangkan bulir-bulir yang kian jatuh di pipinya. Dia mencoba menghentikan teman-teman yang lain agar tak menambah sedihnya karena mengikuti nyanyian tersebut. Fatha bilang begini….

“aku kangen sama umi, kalo denger lagu ini….” Ujarnya sambil menghapus derai air matanya dengan tangannya

Langsung deh memori saya berputar untuk mencari lagu-lagu yang bertemakan tentang ibu juga. Nah.. mari kita mulai dari Abi Haddad bersama Farhan yaa. Kata mereka berdua, ibu itu…..

Kaulah ibuku… Cinta kasihku.. pengorbananmu… tak kan pernah terhenti
Kau bagai matahari… yang selalu bersinar… sinari hidupku… dengan kehangatanmu

Lain pula dengan Bang Opick dengan amanda

Terbayang satu wajah…. Penuh cinta… penuh rindu
Terbayang satu wajah…. Penuh dengan kehangatan…
Kau ibu

Ceuk Teh Melly, ambu teh kieu….

Oh Bunda ada dan tiada dirimu
Kan selalu ada di dalam hatiku….

Itu yang asli dari Indonesia. Mau yang versi barat juga ada ko. Siapa coba?? Bro Maher Zain aja deh. He said that mother is…..

You know you are the number one for me
Number one for me
There’s no one in this world that can take your place
Mum… I’m all grown up now
And it’s not too late
I’d like to put a smile on your face every day

Versi Arab juga ada. Sejak zaman saya masih SD kelas 3 kira-kira. Waktu iu yang mempopulerkan adalah Sulis. Syairnya ini….

Ummi yaa ruuhi wa-hayati
yaa bahjata nafsi wamunaati
Unsi filhadhiri wal-ati...

Ismuki manquusyun fi qolbi
Hubbuki yahdini fi darbi
wadu'a-i yahfazhuki robbiy...

Mau Abi Haddad, Opick, Amanda, Sulis, Teh Melly Goeslaw (bunda_red), ternyata mereka sepertinya kompak dalam menuangkan gambaran seorang ibu. Mengingat nama ibu disebut, kita langsung teringat dengan segenap kasih, sayang, cintanya yang tiada bertepi untuk kita anak-anaknya. Tanpa lelah beliau mengandung selama 9 bulan,. Melahirkan kita ke dunia dengan perjuangan antara hidup dan mati.  Merawat kita sejak bayi hingga dewasa. Mendidik kita dengan penuh kesabaran.  Mengenalkan kita pada dasar-dasar agama yang baik. Mengenalkan Allah, RasulNya. Mengajarkan kita membaca surat cintaNya. Menanamkan nilai-nilai kebaikan sedari kecil, dll.

Maka…..

Ibu. Seorang wanita tangguh luar biasa. Sholihah sebagai perhiasan dunia. Ketika semua orang berbicara tentangnya. Tak akan habis kata yang tepat untuk membalas kasih sayang dan cintanya. Tetapi biarlah diri kita mempersembahkan sebuah balasan cinta yang terbaik dengan membuat guratan senyum haru di wajahnya. Biarlah diri ini untuk terus berusaha menyandingkan kasih sayangnya pada kita. Meski tak sebesar cintanya. Tetapi ada sebuah wujud nyata dari kita untuk selalu mencintai, menyayangi, menghormati, membaktikan diri.

Karena sesungguhnya Ridho Allah ada pada ridho ibu kita dan jannah Allah ada bawah telapak kakinya…..


Wallahu’alam hissawab…….

Sabtu, 28 April 2012

Sendiri Menyepi (edcoustic_red)




Bismillahirrahmaanirrahim....

Sendiri Menyepi..
Tenggelam dalam renungan
Ada apa aku seakan kujauh dari ketenangan

perlahan kucari, mengapa diriku hampa…
mungkin ada salah, mungkin ku tersesat,
mungkin dan mungkin lagi…

Oh Tuhan aku merasa
sendiri menyepi
ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi

sampai kapan ku begini
resah tak bertepi
kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala

benderang di hidupku..

Perlahan kucari, mengapa diriku hampa
mungkin ada salah mungkin ku tersesat,
mungkin dan mungkin lagi

Oh Tuhan aku merasa..
sendiri menyepi…
Ingin ku menangis, menyesali diri, mengapa terjadi

sampai kapan ku begini
resah tak bertepi
kembalikan aku pada cahayaMu yang sempat menyala

Oh Tuhan aku merasaaaaaaaa……
seeeeendiri….aku merasa sendiri..

sampai kapan begini
resah tiada bertepi…Ooohh..
Kuingin cahyaMu
benderang di hidupku..

* saat diri ini belum benar-benar bisa “menyendiri”
   Berikan waktuMu ya rabb

Ada Apa Yaa??


Bismillahirrahmaanirrahim….

Ya Allah….. hari Jum’at kemarin kenapa terasa begitu beraaaat bagi saya? Ada apa yah? Karena banyak tugas gitu? Ah… ga juga. Laporan pekanan, perkembangan kelompok di sekolah beres. Bahkan laporan bulanan juga sudah beres. Alhamdulillah...

Trus kenapa donk?

Oh iya saya tahu! Pemicunya ini nih ada. Dilema. Antara kewajiban di sekolah dan di kampus. Tanggal 14-16 Mei 2012, kampus saya mewajibkan seluruh mahasiswa-mahasiswinya untuk studi banding ke UPI Bandung. Tau ga sih tanggal itu adalah hari efektif saya mengajar. Senin, Selasa dan Rabu. Ya Allah, gimana cara izinnya?

Sedangkan hari-hari terakhir di bulan Mei merupakan hari-hari terakhir saya menutup pembelajaran di semester genap ini. Ditutup dengan UAS Al-Qur’an di akhir Mei. Trus saya juga ga enak karena sudah banyak izin karena sakit. Hadduuuuh…. Gimana doonk???

*garuk-garuk kepala…

Bismillah ta… coba aja ngomong dulu sama Kepala Sekolah, apapun keputusan beliau semoga itu yang terbaik. Tahun ini atau tahun depan, semoga itu yang berkah dari pengijabahan Allah. Insya Allah. Amin!

…….

Kayaknya masih ada yang aneh deh. Ada yang masih perlu ditelisik lebih dalam nih tentang “ada apa dengan Prita?”

Beberapa hari kebelakang saya mencoba mengorek diri saya sendiri. Lebih banyak lagi berbenah. Sepertinya saya butuh “ruang” tersendiri saat ini. Mencoba lebih banyak menapaki apa yang telah saya lakukan. Merenungi semuanya. Ketika berjalan, menatap cermin bening besar, menatap gerbang utama kampus, berdiam di “rumah-Nya”, tapi kenapa belum ketemu juga?

Astaghfirullah….!

Harus menangis dengan kebingungan ini

 Harus berbenah diri dengan segala kedilemaan hati

 Harus lebih banyak menyadari bahwa diri ini masih jauuh dari baik

Harus lebih banyak bermujahadah lagi untuk selalu berusaha menjadi diri yang lebih baik lagi

 Ya Allah tuntunlah cahaya ini selalu dalam jalanMu. Aaamiiin

Wallahu’alam hissawab….

Sabtu, 14 April 2012

Tentang Hidup (Part III)


                                                            Bismillahirrahmaanirrahim……


Hidup adalah belajar
Belajar besyukur meki tak cukup
Belajar memahami meski tak sehati
Belajar Ikhlas meski tak rela
Belajar sabar meski terbebani
Hati memang sepei gelombang air laut, pasang surut dan sering terbawa arus
Maka dari itu  tetaplah belajar untuk tetap berada di jalanNYA
Belajar menjadi lebih baik
Untuk menjadi yang terbaik
Insya Allah
Amin!




Selasa, 06 Maret 2012

Menangislah.....


Bismillahirrahmaanirrahim…..

                Kadang menangis tidak membutuhkan alasan, mengapa, kenapa, dan sebagainya. Terkadang ia nya begitu saja berjatuhan bagai derai hujan yang tak kunjung reda di penghujung malam. Terkadang ia nya mengalir semakin deras dalam isak yang kian tak tertahankan. Terkadang ia selalu memaksa kita menjebolkan pertahanan antara kekuatan dan ketidakberdayaan. Terkadang menangis tak pernah butuh penjelasan.

                Menangis, sebuah luapan perasaan yang tak keruan. Puncak klimaks dari segala kegundahan, keresahan, kebingungan,  ketakutan, ketidakberdayaan atau bahkan bisa juga kebahagiaan. Yang terus menyudutkan diri, yang kian memojokkan dan semakin menghimpit. Sesak. Ingin teriak dalam derasnya tangis yang terus mengalir.

                Dalam perasaan yang kian tak menentu itu. KepadaNya lah kita kembali memasrahkan diri. Ketika dalam kondisi tak berdayanya kita di hadapNya. Menangislah, merengeklah, mengeluhlah, bermanjalah dalam mengungkapkan segala keresahan yang menemaramkan cahayaNya di hati kita.  Mintalah cahayaNya untuk selalu menerangi dan tidak untuk redup lagi. Berharaplah kepadaNya agar selalu membukakan kita pada petunjuk-petunjuk cahayaNya. Yakinlah cahayaNya akan datang dan menghantarkan kita pada jalan-jalan kebenaran. Jalan yang selalu menunjukan kita pada ridhoNya. Jalan yang selalu  menunjukan kita pada kebenaran cintaNya….. Amin. Insya Allah
Wallahu’alam hissawab…..


“Laa takhofu wala tahzanu… Innallaha ma’ana…”

Minggu, 04 Maret 2012

Penantian Pernikahan


Bismillahirrahmaanirrahim…..

                Ini cerita tentang sebuah ayat kauniNya yang selalu dibentangkanNya dalam kehidupan saya. Saya selalu dipertemukanNya dengan orang-orang pilihan yang tengah sedikit gundah dan gelisah dalam “penantian”. Penantian apa lagi selain menanti pasangan hidup. Saya yakin, ini bukan suatu kebetulan dan ada hikmah atau pembelajaran berharga yang ingin Allah sampaikan kepada saya. Saya yakin, pertemuan saya dengan “orang-orang pilihan” ini adalah wujud cintaNya kepada saya. Yang kelak nanti ketika saya menghadapi hal serupa, saya diingatkanNya selalu akan cerita2 ini. Insya Allah.

                Bulan ini, begitu banyak “kabar gembira” yang hadir dari kalangan kerabat, sahabat karib, teman sejawat, bahkan teman dalam medan dakwah. Mereka yang kini tengah berbahagia, ada yang juga tengah berdebar menanti waktu bahagia. Ya! Menggenapkan setengah dien mereka. Alhamdulillah… saya pun turut berbahagia mendengar kabar ini. Turut bersemarak dalam kebahagiaan yang berserak di antara mereka. Turut mendo’akan. Barakallah yaa ukhti….

                Di satu sisi saya juga menghadapi teman-teman yang tengah resah “menanti” . Bertanya-tanya dalam hati, dalam do’a. “Kapankah pendamping hidup saya datang?”.

                Pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang juga sering saya ajukan mungkin dalam hati. Malah ditambah lagi dengan  pertanyaan-pertanyaan yang lain, seperti apakah rupanya? Akhlaknya? Karakternya? Sholihnya? Dan yang lainnya, malu ah ditulis di sini. Hihi.

                Menikah…. Siapa yang tidak mau? Menikah…. Ah sekiranya tidak usah lagi saya menceritakan indahnya kehidupan pernikahan. Meski saya juga belum tahu seperti apa indahnya. Tetapi setidaknya saya sudah bisa melihat, merasakan rona-rona kebahagiaan orang-orang di sekitar saya ketika mereka akan atau telah menikah. Selain indah juga berkah. Insya Allah. Amin.

                Tetapi pernikahan membuka lembar-lembar tabir dalam hidup. Pernikahan adalah awal gerbang kehidupan kita yang sesungguhnya. Dengan berbagai proses di awal-awal waktu sebelum kita memutuskan untuk pernikahan. Memilih pasangan terbaik, ber istikharah meminta segala ketentuanNya yang terbaik, saling mengenal dalam proses ta’aruf, hingga ke tahap yang lebih lanjut yaitu ke pengenalan keluarga, khitbah dan akhirnya menikah.

                Pernikahan membuka tabir tentang segala konsekuensi hidup atas pilihan-pilah yang telah kita pilih. Pernikahan menyingkap segala cakupan hidup kita yang lebih luas dan jangka yang sangat panjang. Pernikahan itu tidak untuk satu hari atau dua hari, tetapi kelak sampai akhir hayat kita. Sekali dalam seumur hidup kita. Insya Allah. Amiiin.

                Maka… untuk sebuah keputusan jangka panjang ini, kita harus benar-benar mempersiapkannya dengan baik. Mulai kapan mempersiapkannya? Ya itu dia tuh pertanyaan yang kian mengusik saya. Kapan harus mempersiapkannya? Bagaimana mempersiapkannya? Apa yang harus kita persiapkan? Pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah hal kecil loh karena keputusan untuk menikah itu keputusan besar yang di ikuti dengan tanggung jawab yang besar pula.

                Akhirnya sampailah saya kepada sebuah bacaan dalam sebuah Koran harian Jakarta. Ada hal menarik sarat makna yang saya temukan di sana. Sebuah pesan dari seorang sahabat baginda Rasulullah SAW, Utsman bin Affan.

“ Wahai anak-anakku, sesungguhnya orang yang hendak menikah itu ibarat orang yang hendak menanam benih. Maka, hendaknya ia memperhatikan di mana ia akan menyemainya. Dan, ingatlah bahwa wanita yang berasal dari keturunan yang jelek jarang sekali melahirkan keturunan yang baik. Maka, pilih-pilahlah terlebih dahulu meskipun sejenak”

            Hmmm….. teruntuk diri saya sendiri, dan kita semua. Nasihat di atas sekiranya mengingatkan kita bahwa sekali lagi pernikahan bukan hal yang main-main, sepele dan dianggap enteng. Pernikahan kelak akan melahirkan generasi-generasi kelanjutan kita. Penerus kita yang merupakan perpanjangan tangan kita mewujudkan cita yang mulia, kejayaan DienNya. Amiin. Insya Allah

                Untuk diri saya sendiri khususnya, dan untukmu yang tengah kian gundah “menanti”. Tak usah kian merisaukan akan pertanyaan kapan, kapan dan kapan?? Manusiawi sih, apalagi lingkungan sekitar juga kian “menyulut” kita. Hmm…. Pesanku, jangan lah kita tergesa-gesa dalam soal menikah. Mungkin karena umur yang kian mendesak, teman-teman telah banyak mendahului kita, bahkan yang usianya jauh di bawah kita, desakan orang tua dan lain sebagainya. Jangan sampai berfikir begini, “Udahlah, apa yang ada aja….” . Naudzubillah…. Semoga Allah menghindari kita dari fikiran yang demikian. Amin

                Tetapi…. Alangkah baiknya jika kita mau sejenak menyelami diri kita. Menyadari hakikat niat kita menikah untuk apa. Meluruskan segala azzam yang ada pada diri. Bertanya dan terus bertanya tentang tujuan kita dalam pernikahan. Ketahuilah bahwa kelak kita akan menjadi pendidik yang paling pertama bagi anak-anak kita. Sebelum anak-anak kita berguru kepada orang lain, kapan pun dan dimana pun. Khususnya untuk kita para muslimah, “Ibu, madrasah yang pertama….” . Maka, marilah sama-sama kita menyiapkan diri untuk bisa menjadi sebaik-baik pendidik bagi anak-anak kita nanti. Marilah sama-sama kita untuk terus mengembangkan diri dengan sebaik-baik pendidikan. Marilah sama-sama untuk terus menginsyafi diri bahwa ibadah kita mungkin masih banyak yang belum maksimal. Marilah sama-sama kita terus menginterospeksi diri bahwa kita masih banyak kekurangan. Maka mari terus kita bersemangat untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari hari ke hari. Mari memantaskan diri untuk bisa menjadi pendamping yang baik bagi pasangan kita. Mari kita belajar agar kelak mendapatkan pasangan yang memang pantas mendampingi kita. Jikalau kita menginginkan pasangan yang terbaik, maka marilah kita mulai dari diri kita sendiri untuk menjadi yang terbaik.

Dan sabarlah serta berpegang kuatlah pada taliNya dalam menjalani sebuah proses panjang perbaikan diri ini. Ketahuilah, tiap detail proses perbaikan diri yang kita lakukan selalu dilihat oleh Allah. Seberapa kuat kah tekad kita untuk bisa menjalani setiap proses. Insya Allah…. Dengan kekuatan serta izinNya, kita bisa melewati rangkaian alur proses yang terus menerus ini. Karena yang Allah lihat adalah PROSES kita… bukan hasil. Allah lihat proses kita…. Allah lihat proses kita.

Dan tentang pasangan kita, belahan jiwa kita, mujahid atau bidadari kita…. Insya Allah di waktuNya yang tepat. Kita akan dipertemukanNya di caraNya yang terindah. Insya Allah, amin.
Wallahu’alam




“Dan diantara tanda-tanda (kebesaranNya) ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan DIA menjadikan  diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”
(QS Ar-Rum : 21)


Rabu, 29 Februari 2012

Semua akan indah pada waktuNya


Bismillahirrahmaanirrahim……

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Semua akan indah pada waktuNya

Amin….. Amin….. Amin….. Amin….. Amin…..

 Amin….. Amin….. Amin….. Amin….. Amin.....

Amin….. Amin….. Amin….. Amin….. Amin….. 

Ya Allah.....



Sabtu, 31 Desember 2011

Akhwat Berkisah




Bismillahirrahmaanirrahim….


Sebuah cerita muncul dari satu jiwa
                                Pilar-pilar takwa sedang diuji kekokohannya      
Apapun yang menuju padaku selalu diiringi tanda tanya
Dia datang dengan pilihan
Aku menyambut dengan kebingungan
Adakah seseorang yang mau membacakanku alquran
Dan bantu aku berikan jawaban
Dan beri aku rumus membaca masa depan
Agar dapat kusimpulkan seluruh teori cinta dan kehidupan

Kutahu semua yang melintasi telinga dan mataku terasa ke dalam hati
Kuhanya mendengar suara kesetiaan dan mengikutinya
Memandang pelangi ketaatan dan menikmatinya
Kesetian dan ketaatan itu.. untuk Allahu Robbii
Bercakaplah dan lantangkan suara kesetiaan itu
Agar ku mau mengikuti jejak langkahmu
Berbuatlah dan tampakkan pelangi ketaatan itu
Agar ku mau menikmati hidup bersamamu

Banyak kisah tawa dan tangis manusia yang kubaca
Masing-masing mereka memberikanku hikmah
Dan kini tentang kisahku bagaimana
Adakah jua berakhir indah.._