Tampilkan postingan dengan label belajar mencintaiNya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar mencintaiNya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Mei 2012

Sakit = Bukti CintaNya


Bismillahirrahmaanirrahim……

Tuhan….
Baru kusadar indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini ku harapkan cintaMu

Bait lagu edcoustic itu, menyadarkan kita. Menghentak keegoisan diri. Kezaliman yang kita lakukan terhadap diri sendiri. Astaghfirullah!!

Ta… apa yang tengah kamu rasakan sekarang  tidak ada seujung kukunya pun dibanding dengan ujian para anbiya. Mau contoh? Tengok kisah Nabi Ayyub AS. Ketika Nabi Ayyub sakit,  bagaimana seharusnya respon istri, keluarga dan orang2 sekitarnya? Apakah mereka semua mengurus Nabi Ayyub ketika sakit? TIDAK! Bahkan mereka semua meninggalkan Nabi Ayyub seorang diri. Apakah Nabi Ayyub berputus asa? TIDAK! Karena apa ta? Karena Nabi Ayyub punya Allah. Dia lah tempat bergantung dan berharap. Bukan pada yang lainnya. Apalagi berharap pada makhluk. Waah…. Kita, manusia tiada kekuatan serta daya apapun kecuali atas kekuatanNya. Karena dengan kekuatanNya Allah memampukan kita menjalani semua.
Sakit… semoga menjadi kafarat atau penyucian diri kita atas segala dosa. Semoga jadi perenungan diri. Salah satu titik tolak untuk selalu bersyukur atas segala nikmatNya. Terutama nikmat sehat. Insya Allah. Amin.

Tidak ada sesuatu hal apapun yang menimpa kita kecuali Allah memberikan suatu manfaat besar bagi kita. Asal dengan kejelian mata iman kita memandangnya. Dengan berkhusnuzhan kepadaNya. Bahwa inilah bukti cinta serta kasihNya kepada kita.

Kini…. Bagimu yang terkulai lemah dengan  sakitmu. Semoga sakit ini semakin menjadikan dirimu dekat kepadaNya. Bermuhasabah kembali. Meningkatkan rasa sykurmu yang mungkin terlupa. Menunaikan hak-hak untuk kebutuhan ragamu.

Semoga sakit ini menjadikan dirimu semakin menyadari. Bahwa diri lemah sekali serta tak ada daya dan upaya kecuali atas kekuatan yang diberikanNya pada kita. Karena kekuatanNya yang memampukan kita. Karena segala hal yang telah terjadi, tengah terjadi atau yang masih menjadi misteri adalah bentuk cintaNya untuk kita, Insya Allah. Amin!

Wallahu’alam hissawab…..

_syafakillah!

Jumat, 06 April 2012

Do'a Rabithah.....


Bismillahirrahmaanirrahim…….

Sesungguhnya Engkau tahu…. Bahwa hati ini telah berpadu… Berhimpun dalam naungan cintaMu… Bertemu dalam ketaatan… Bersatu dalam perjuangan… Menegakkan syari’at dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya…. Kekalkanlah cintanya… Tunjukilah jalan-jalannya… Terangilah dengan cahyaMu… Yang tiada pernah padam… Ya Rabbi, bimbinglah kami…

Lapangkanlah dada kami… dengan karunia iman… dan indahnya tawakal padaMu… Hidupkan dengan ma’rifatMu… Matikanlah dalam syahid di jalanMu…Engkaulah pelindung dan pembela…
_Izzis, Rabithah

Barisan kata di atas adalah syair dalam salah satu lagu Izzatul Islam. Barisan kata di atas juga merupakan bait-bait sebuah do’a. Yang terangkai indah, penuh makna dan mendalam artinya.

Do’a pengikat hati kita bersama dengan orang-orang yang tercinta, orang-orang yang berjuang atas nama dienNya, orang-orang yang selalu mencari cahayaNya, orang-orang yang selalu meminta bimbingan RabbNya, orang-orang yang hanya selalu mengandalkan Allah sebagai sebaik-baik pelindung dan pembela.

Agar disatukan hati kami dalam himpunan naungan cintaNya yang abadi serta suci

Agar disatukan hati kami dalam ketaatan yang mulia

Agar disatukan hati kami selalu dalam perjuangan hanya menggapai ridhoNya, dalam menegakkan syari’atNya dalam degup kehidupan

Agar dikuatkanNya ikatan hati kami yang telah berpadu dan berhimpun ini

Agar dikekalkanNya selalu cinta kami ini hanya untukNya saja

Agar ditunjukiNya selalu jalan-jalan menuju jalan kebenaranNya

Agar diterangiNya selalu dengan cahayaNya yang selalu berpijar dan yang tak akan pernah padam

Agar dibimbingNya selalu dalam titian cita kami menuju menara cahaya di surgaNya

Agar dilapangkanNya selalu dada kami selalu dengan iman tanda karunia dariNya

Agar dianugerahkanNya selalu kepada kami betapa indahnya bertawakal kepadaNya

Agar dihidupkanNya selalu kami dalam ma’rifatNya

Agar dimatikanNya kami dalam syahid di jalanNya

Agar hanya kepadaNya selalu kami berlindung dan dibela

Barisan do’a ini… semoga selalu terlafadz dalam kesyahduan kita bermunajat kepadaNya

Barisan do’a ini… insya Allah semoga menjadi penghantar kita menuju
menara-menara cahaya yang telah disiapkan Allah di jannahNya

Untuk kita semua… yang selalu mengharapkan pertemuan yang abadi dengan para pecintaNya serta yang saling mencinta karenaNya, dijalanNya dan hanya untukNya

Insya Allah. Amin!

Wallahu’alam hissawab…..


“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana”
(QS Al-Anfal:63)

Selasa, 06 Maret 2012

Menangislah.....


Bismillahirrahmaanirrahim…..

                Kadang menangis tidak membutuhkan alasan, mengapa, kenapa, dan sebagainya. Terkadang ia nya begitu saja berjatuhan bagai derai hujan yang tak kunjung reda di penghujung malam. Terkadang ia nya mengalir semakin deras dalam isak yang kian tak tertahankan. Terkadang ia selalu memaksa kita menjebolkan pertahanan antara kekuatan dan ketidakberdayaan. Terkadang menangis tak pernah butuh penjelasan.

                Menangis, sebuah luapan perasaan yang tak keruan. Puncak klimaks dari segala kegundahan, keresahan, kebingungan,  ketakutan, ketidakberdayaan atau bahkan bisa juga kebahagiaan. Yang terus menyudutkan diri, yang kian memojokkan dan semakin menghimpit. Sesak. Ingin teriak dalam derasnya tangis yang terus mengalir.

                Dalam perasaan yang kian tak menentu itu. KepadaNya lah kita kembali memasrahkan diri. Ketika dalam kondisi tak berdayanya kita di hadapNya. Menangislah, merengeklah, mengeluhlah, bermanjalah dalam mengungkapkan segala keresahan yang menemaramkan cahayaNya di hati kita.  Mintalah cahayaNya untuk selalu menerangi dan tidak untuk redup lagi. Berharaplah kepadaNya agar selalu membukakan kita pada petunjuk-petunjuk cahayaNya. Yakinlah cahayaNya akan datang dan menghantarkan kita pada jalan-jalan kebenaran. Jalan yang selalu menunjukan kita pada ridhoNya. Jalan yang selalu  menunjukan kita pada kebenaran cintaNya….. Amin. Insya Allah
Wallahu’alam hissawab…..


“Laa takhofu wala tahzanu… Innallaha ma’ana…”

Selasa, 14 Februari 2012

Memperbanyak Sujud


Bismillahirrahmaanirrahim……

Dikisahkan oleh Rabiah bin Ka’ab al-Aslami, bahwa pada suatu malam ia pernah menyediakan seember air wudhu dan keperluan-keperluan lain yang dibutuhkan Rasulullah SAW. Melihat kebaikan yang dilakukan Rabiah, Rasulullah berkata kepadanya, “Mintalah seseuatu dariku, wahai Rabiah,”

Rabiah pun menyebutkan permintaannya. “Wahai Rasulullah, aku minta agar Allah menjadikanku sebagai pendampingmu di surge kelak.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah tak ada permintaan lain selain itu?”

“Tidak ada, wahai Baginda Nabi. Hanya itu yang aku ingin aku minta darimu,” jawab Rabiah. “Jika demikian, maka jagalah dirimu untuk memperbanyak sujud.” (HR Muslim)

Sujud pada hakikatnya bukanlah sekedar gerakan dan ritual yang ada dalam shalat. Lebih dari itu, sujud adalah salah satu bentuk kepasrahan total dengan merendahlan diri serendah-rendahnya di hadapan keagungan Allah Yang Maha Kuasa. Sujud merupakan bentuk pengharapan ridha dan cinta dari Dzat Yang Maha Melihat, serta bentuk syukur atas beragam nikmat Allah, dan kecemasan dari azab Allah yang Maha dahsyat.

Sujud adalah bukti keimanan seorang Mukmin. “Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu, mereka segera bersujud seraya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka tidak menyombongkan diri.” (QS Al-Sajdah:15).

Selain itu, sujud juga merupakan bukti nikmat dan kasih sayang Allah kepada hambaNya. “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dari keturunan Ibrahim dan Israil (Ya’qub), dan dari orang-orang yang telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS Maryam:58).

Sujud juga momen paling intim antara hamba dan Tuhannya. “Sesungguhnya saat yang paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang bersujud.” (HR Muslim). Karena sujudlah, seorang manusia mendapat predikat Ibadurrahman, hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang, dan dijamin masuk surge. “Dan Ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang) ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan, mereka adalah orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS Al-Furqan:63-64).

Dengan sujud pula Allah mengangkat derajat para Rasul dan menjadikan golongan paling mulia dalam sejarah umat manusia. “Muhammad itu adalah utusan Allah. Dan, orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang dengan sesame mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.” (QS Al-Fath:39). Wallahu’alam.  (Penulis, Jauhar Ridloni Marzuq).

###


Membaca renungan di atas, membuat pikiran saya langsung dipenuhi oleh berbagai pertanyaan-pertanyaan ini…. Tidakkah renungan di atas membuat hati ini ingin menjadi pendamping Nabi kita yang mulia di surgaNya? Tidakkah membuat diri ini memanfaatkan sebaik-baiknya momen indah, momen yang paling dekat denganNya? Tidakkah membuat diri ini ingin selalu berusaha membuktikan cinta kita kepadaNya? Tidakkah menyentuh diri ini mengungkapkan syukur serta pengharapan hanya ridhaNya? Tidakkah hati ini tergugah untuk lebih banyak untuk melakukannya?

Setidaknya kita sujud sebanyak 34 kali dalam 1 hari. Itulah hitungan sujud pada saat shalat-shalat wajib kita dalam sehari. Cukupkah sujud-sujud kita yang hanya dengan 34 kali itu jika dibandingkan dengan beragam nikmat Allah yang selalu dilimpahkanNya tiap waktu kepada kita. Cukupkah sujud-sujud kita membalas cintaNya yang tak pernah bertepi untuk kita?

Tentu kalkulasi seluruh sujud yang kita lakukan selama kita hidup pun tidak akan pernah cukup membalas segala nikmat, anugerah, serta cinta kasih yang Allah berikan kepada kita. Tetapi setidaknya kita berusaha semaksimal mungkin dengan segala daya kekuatan diri, rasa syukur kita, rasa cinta kita yang terdalam kepadaNya dengan memperbanyak sujud –sujud kita. Tidak hanya dalam shalat-shalat yang diwajibkanNya. Tetapi kita nyalakan juga semangat menambahnya dengan shalat-shalat yang disunnahkanNya. Lalu kita belajar pula untuk tetap teguh melakukannya dalam keseharian hidup kita. Bukankah Allah mencintai amal yang sedikit namun berkelanjutan terus dan menerus? Tidakkah diri ini tidak juga tergerak melakukan lebih banyak sujud untuk meraih cintaNya? Wallahu’alam.




“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung”
(Al-Hajj:77)




Minggu, 22 Januari 2012

Tentang Cinta (Part II)


Bismillahirrahmaanirrahim……

                Lagi, kali ini saya menulis tentang cinta di blog ini. Mencoba berbagi dengan buku yang saya baca, masih dengan  judul yang sama serta penulis yang sama. Jalan Cinta Para Pejuang nya Salim A Fillah. Dan  salah satu bab judul di buku ini begitu menyentuh saya, menyadarkan. Kali ini judulnya “Sergapan Rasa Memiliki”.

                Izinkan saya untuk mengulas sebuah pelajaran indah yang bisa kita petik dari seorang sahabat mulia baginda Rasulullah. Salman Al Farisi.

                Salim A Fillah mengisahkan secuil kisahnya, Salman Al Farisi. Kisah itu tentang nya yang kala itu memang sudah waktunya untuk menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya mukminah lagi shalihah pun telah mengambil tempat di sudut hatinya seorang Salman. Bukan sebagai kekasih tentunya. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal yang sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.

                Tetapi bagaimanapun, Salman merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukan tempat dia tumbuh serta berkembang menjadi dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia pun berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khitbah. Maka disampaikanlah sebuah niat mulia hati nya itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.

                “Subhanallah…wal hamdulillah…” , girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorangg wanita yang shalihah lagi bertakwa.

                “Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallaahu’ Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli baitnya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putrid Anda untuk dipersuntingnya.” , fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.

                “Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, “Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah member isyarat kea rah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

                “Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. “Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

                Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tetapi mengapa Salim A Fillah mengatakannya indah? Karena reaksi Salman. Bayangkanlah sebuah perasaan, dimana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan pula sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Maka dengarkanlah Salman bicara.

                “Allahu Akbar!”, seru Salman, “Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
###

                Allahu Akbar…. Setelah saya membaca kisah Salman di atas. Jujur, saya juga ikut merasakan sedikit apa yang dirasakan Salman pada saat itu. Keterusterangan yang membuat persaaannya tak menentu. Antara terkejut, ironis, tak enak hati serta kerelaan hati. Astaghfirullah… jika saya di posisikan sebagai Salman kala itu maka sebagai manusia biasa saya mengakui itulah hal berat untuk menerima keterusterangan  yang diutarakan ibu dari gadis itu. Gadis shalihah yang telah menempati salah satu sudut relung hati saya. Tetapi saya bukanlah seorang Salman yang dengan gagah serta bijaksananya ia mendengar keterusterangan itu.  Mendengar jawabannya… Subhanallah!

                Salman mengajarkan kita untuk meraih sebuah kesadaran tinggi. Di tengah kecamukan rasa yang tak menentu; malu, sedih, kecewa, merasa salah memilih pengantar, merasa berada di tempat yang salah, negeri yang salah, waktu yang salah dan sebagainya. Ini bukanlah hal yang mudah. Untuk kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari kita bersama belajar kepada Salman. Bahwa cinta tak harus memiliki. Dan sejatimya memang kita sebagai manusia tidak memiliki apapun dalam kehidupan ini. Sekali lagi, Salman mengajarkan kita untuk memiliki sebuah kesadaran yang harus kita munculkan meski di suatu kondisi yang sangat tidak mudah.

                “Sergapan memiliki terkadang sangat memabukkan”, tulisan Salim A Fillah itu menghentak saya. Ya! Ia benar. Sering pula rasa memiliki membuat kita terlupa dan lalai. Terlupa bahwa apa-apa yang kita miliki sekarang adalah sebuah “titipan” atau “pinjaman” dari Allah yang sewaktu-waktu bisa diambilNya kembali. Rasa memiliki melalaikan kita akan sebuah kesadaran bahwa “titipan” atau “pinjaman” itu seutuhnya miliknya. Status kita hanya dipinjami. Ini adalah hal yang tak mudah. Padahal Allah telah memberikan kita bekal serta karuniaNya untuk memanfaatkan sebaik-baiknya “titipanNya” itu. Tetapi sekalli lagi, rasa memiliki memang menjadi sulit untuk ditepis.

                Kembali lagi pada suatu kisah awal yang saya kutip dari buku Salim A Fillah di atas, Salman Al Farisi. Kisahnya menyadarkan saya serta kita semua. Bahwa kita semua adalah milik Allah dan hanya kepadaNya kita akan kembali. Kita tak memiliki suatu hal apapun dalam kehidupan ini. Allah hanya meminjamkannya kepada kita. Maka dengan sahabat paling mesra, suami paling setia, anak-anak yang berbakti, hubungan kita bukanlah hubungan saling memiliki. Allah hanya meminjamkan dia untuk kita dan meminjamkan kita untuknya. Itu saja. Mereka lah perantara-perantara sampainya pesan-pesan cintaNya untuk kita. Sungguh suatu karuniaNya yang begitu besar ketika kita ditakdirkan untuk bersama. Atau pernah bersama. Bersama di jalan cinta para pejuang.

###
                Ada satu hal lagi yang makin menyadarkan saya tentang bahwa kita tak akan pernah memiliki hal apapun di dunia ini. Sebuah lagu dari Peterpan. Judulnya Tak Ada Yang Abadi. Agak kurang nyambung sih sepertinya. Tetapi setidaknya lagu itu menyadarkan saya juga bahwa tak ada yang abadi dalam kehidupan ini. Semua akan terus bergulir seiring dengan berjalannya waktu. Orang-orang yang mencintai kita dan yang kita cintai tak akan selamanya selalu menemani kita. Tak selamanya terus menjaga kita.Saya, Anda, kita semua akan kembali kepada Sang Pemilik kita.  Maka dari itu mari kita kembalikan segala rasa memiliki kita kepada Sang Pemilik Bumi dan Langit ini. Pemilik kita. Penjaga kita. Allah.
Wallahu’alam hissawab…..

Takkan selamanya tanganku mendekapmu
Takkan selamanya raga ini menjagamu
Seperti alunan detak jantungku

Tak bertahan melawan waktu
Dan semua keindahan yang memudar
Atau cinta yang telah hilang

Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi

Biarkan aku bernafas sejenak
Sebelum hilang

Takkan selamanya tanganku mendekapmu
Takkan selamanya raga ini menjagamu

Jiwa yang lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti

Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi
Tak ada yang abadi

Sabtu, 31 Desember 2011

Kejutan-KejutanNya


    Bismillahirrahmaanirrahiim.....
        
          Seorang sahabat  saya di facebook mengungkapkan suatu hal pada saya. Tentang kebiasaan saya selalu mengganti profile picture. Ya pokoknya profile picture saya itu tidak bertahan lama deh. Dan analisa dia saya kira benar juga.

            Dia bilang kalo sepertinya saya punya kepribadian yang cepat bosenan dan senang dengan suasana baru. Kemudian dia menambahkan beberapa kalimat lagi sebagai lanjutan kalimat tadi. Katanya obatnya biar ga gampang bosen adalah punya suami yang humoris, kreatif dan easy going.

            Walaah… saya ketawa menanggapi komennya. Tapi sedikit mengiyakan juga sih dan sedikit mengaminkan. Dia ada benarnya. Sejujurnya kenapa saya sering mengganti Profile Picture adalah…. Salah satu media mengungkapkan segala hal detail yang sedang saya alami saat itu. Dan sahabat saya bilang lagi, bahwa pasti saya mengungkap hal detail itu lewat photografi, tulisan maupun do’a.

            Saya tanya deh sama dia kenapa alasannya dia bilang saya orangnya bosenan? Jawabannya adalah, untuk hal2 yang bukan menyangkut prinsip saya orangnya mudah tergoyahkan. Tetapi untuk hal2 yang menyangkut dengan prinsip, saya akan setia serta memegang prinsip itu kuat2. Dan dia bilang lagi karena saya suka fotografi dan saya menganggap bahwa fotografi adalah salah satu cara mengekspresikan jiwa maka saya jadi sering deh ganti2 Profile Picture. Sebagai perwakilan ekspresi jiwa katanya.

            Lagi-lagi saya harus tersenyum dengan analisanya. Benar! Kemudian saya tanya sama dia, belajar dimana tentang analisis yang hebat tadi tentang saya. Eh dia malah jawab dengan kutipan kata2 saya juga…
 Saya belajar di sebuah sekolah maha luas bernama kehidupan
 Berguru kepada guru maha bijak yaitu pengalaman
Belajar setiap saat kepada hal apapun dan siapapun
Mengambil hikmah yang terbaik buat diri sendiri maupun orang banyak

                 Alhamdulillah…segala puji dan syukur hanya saya tujukan kepadaNya. Sekelumit kisah kecil di atas menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya. Saya belajar banyak hal dari mereka, orang-orang yang ada, yang hadir dalam kehidupan saya. Yang kian menyemarakkan kehidupan saya hingga menjadi kian berarti. Mereka lah guru kehidupan saya. Dari mereka saya belajar bagaimana menjalani kehidupan ini, dari mereka saya mendapatkan kejutan-kejutanNya yang tak terkira. Sungguh… hidup ini indah! Dengan segala liku dinamika masalah yang tertumpah ruah. Dengan segala perputaran roda waktuNya yang mempertemukan kita dengan misteri-misteri tarbiyah yang Allah sediakan untuk kita. Semuanya indah…

            Allah telah membuat kehidupan ini kian beragam dan berwarna. Dengan keberagaman hayati yang ada di alam jagat raya ini. Allah ingin kita memahami segala peristiwa yang terjadi di alam ini telah tercatat semua dalam kitabNya. Allah ingin kita bisa menikmati tiap detailnya proses kehidupan yang kita jalani dengan tulus hati serta berusaha melakukan segala sesuatu karenaNya, di jalanNya dan hanya untukNya. Insya Allah. Amiiin

            Saya sedang merasakan itu semua. “Kejutan-kejutanNya”  yang tak terduga. Semua serasa seperti mimpi dan tak pernah saya sangka-sangka. Layaknya keajaiban!! Tetapi ini nyata. Alhamdulillah ya Rabbi…
  
            Saya berdo’a agar saya dipahamiNya dengan segala “kejutan-kejutanNya” ini. Saya juga Insya Allah menarik satu benang merah dari segala “kejutanNya”. Allah mengajari saya, mendidik saya agar bisa jauh mencintaiNya lagi… Insya Allah. Semoga saya bisa mencintaiMu ya Rabb dengan segala ketulusan niat suci serta keikhlasan hati ini. Insya Allah. Amiiin

 # catatan ini terinspirasi dari "seseorang" yang selalu menyatakan dengan keyakinan serta ketulusan hatinya… melakukan sesuatu karena Allah…
Terinspirasi juga ketika dia berujar tentang sesuatu dengan ucapan… “Insya Allah”